Sunday, 24 June 2018

KALA SYEKH SYA’RAWI INGIN BERHENTI BELAJAR

Beliau adalah ulama besar Mesir yang mendunia, mercusuar al Azhar yang belum ada tandingan kealimannya, bahkan beliau disebut-sebut sebagai pembaharu abad ke-20. Ternyata Sya’rawi muda memiliki kisah tersendiri saat masa beliau masih menuntut ilmu.

Syekh dimasa belajarnya, sempat berkali-kali memutuskan untuk berhenti kuliah. Karena beliau iba melihat orang tuanya yang hidup miskin di desa, bekerja membanting tulang untuk menghidupi saudara-saudaranya, dan turut terbebani dengan biaya kuliahnya.

Maka beliau mengutarakan keinginannnya untuk berhenti belajar agar bisa membantu ayahnya bekerja, namun keinginannya selalu ditolak dengan tegas oleh orang tuanya. Karena ayah Sya’rawi bermimpi anaknya kelak akan jadi ulama yang ilmunya bermanfaat untuk umat Muhammad, bukan jadi petani.

Maka berbagai trik dilakukan oleh Sya’rawi muda, untuk meyakinkan bahwa pilihannya berhenti kuliah dan bekerja adalah pilihan yang tepat. Salahsatunya ia menginformasikan bahwa biaya kitab - kitab kuliah sangat tinggi.

Seperti biasa beberapa tahun sekali ayahnya dari desa akan mengunjunginya di kota. Maka Syekh membuat kesepakatan dengan penjual buku dan memesan kitab-kitab dalan jumlah yang sangat banyak dan menyatakan bahwa itu semua adalah diktat kuliah.

Maka datanglah sang ayah, dan ketika Sya’rawi menginformasikan tentang keharusan membeli kitab-kitab yang sangat banyak itu, diluar dugaan ayahnya menyanggupinya. Bahkan membayarnya tanpa menawar. Ia hanya sempat berkata kepada Sya’rawi “Ini semua diktat kuliah kamu ?”

Pertanyaaan itu hanya dijawab dengan anggukan. Setelahnya, diangkutlah dengan truk berkardus-kardus kitab ke asrama belajar Asy Sya’rawi muda.

Malam harinya, ayah belliau menyampuli kitab itu satu persatu. Sya’rawi yang berusaha mencegahnya karena tahu betapa lelahnya sang ayah selepas perjalanan jauh gagal. Sepanjang malam ayah beliau menghabiskan malam dengan menyampuli semua kitab.

Pagi harinya, Sya’rawi muda mengantar ayahnya ke stasiun kereta. Sebelum ayahnya beranjak ia sempat berkata, “Nak, sebenarnya ayah tidak mau mengatakan ini, namun ayah khawatir engkau akan mengira bahwa ayahmu sangat bodoh sehingga kebodohan itu akan mempengaruhimu. Ayah tahu bahwa kitab yang kita beli kemarin bukanlah buku kuliahmu. Dan engkau juga harus tahu bahwa ayah membelinya dengan uang yang sebagianbesarnya pinjaman. Namun ayah tidak akan marah, ayah hanya mendoakanmu semoga semua kitab itu bermanfaat bagimu…”

Perasaan bersalah membuat suasana pagi itu begitu sendu dihati Sya’rawi. Ia melepas ayahnya pergi dengan derai air mata dan selaksa do’a. Dan ia merasakan bahwa dipundaknya kini terbeban amanah, agar ia tidak pernah mengecewakan orang tuanya.

Sya’rawi kemudian menjadi pelajar yang paling gigih. Ia melahap habis semua kitab yang dibelikan sang ayah dan bahkan terus melanjutkan menu bacaannya keperpustakaan yang ada. Doa dan usaha yang tulus dari sang ayah, kemudian melahirkan imamnya da’i, dialah Syaikh Muta’walli asy’Sya’rawi rahimahullah ta’ala.
_____


Wahai para ayah, mana doa dan kesungguhanmu untuk anak-anakmu yang sedang menuntut ilmu ? Memikul agama ini sangatlah berat, anakmu yang lemah itu butuh doa dan sentuhan lembutmu agar mereka tetap teguh dan kuat.

Wednesday, 14 February 2018

ISTRI SETENANG MALAM

Allah berfirman tentang para istri : "Agar kalian merasa tenang kepadanya." (QS. Ar Rum:21)

Dan Dia berkata tentang malam hari : "Agar kalian tenang padanya." (QS. Yunus : 67)

Hanya waktu malam yang mampu meredam segala hiruk-pikuk dan kebisingan siang hari.
Malam adalah waktu istirahat yang tak mungkin tergantikan, bahkan oleh berlipat waktu siang hari.
Begitulah sifat para istri seharusnya, tenang, setenang malam.

Ia mampu meredam goncangan ujian yang dihadapi oleh suaminya. Menjadi tempat yang nyaman untuk dia merebahkan jiwanya yang lelah oleh masalah.

Sungguh, seorang lelaki yang paling perkasa sekalipun diluar sana. Yang jika dia berbicara, orang satu negeri terpekur mendengarnya, yang paling dibutuhkan hanyalah sentuhan lembut dari istrinya.

Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam ketika turun dari gua Hira dalam kondisi pucat pasi karena takut, hanya butuh selimut dan sentuhan lembut Khadijah untuk kembali menenangkan jiwanya.
Memiliki istri setenang malam, adalah nikmat yang tidak akan pernah tergantikan.

RIBUT

Ribut antar sahabat atau kerabat tidak selalu artinya buruk. Karena ternyata diantara efek bila telah saling mencintai, akan mengurangi ragam basa-basi.

 Kakak beradik lebih sering ribut antar mereka daripada dengan anak tetangga, tanya kenapa ? Jawabnya karena ada cinta diantara mereka.

Yang saling mencintai memiliki keyakinan, ia tidak akan ditinggalkan hanya karena urusan keributan.
Dulu antar sahabat Nabipun, kalau membahas sesuatu antar mereka suka ribut.


 Bacalah dialog-dialog antar manusia-manusia mulia itu, khususnya saat membahas perkara umat yang sangat penting. Tegang, bising dan tanpa tedeng aling-aling.

Yang saya berfikir, jika cara ribut sesama mereka dipakai hari ini, bakal membuat kita nggak akan teguran lagi sampai mati.

Bila telah ada cinta, keributan bukanlah hal yang bisa mengancam hubungan.
Karena cinta punya energi yang sangat cukup bahkan berlebih, sekedar hanya untuk memaklumi dan memaafkan.

KEUTAMAAN NEGERI SYAM


Syam adalah kawasan yang sekarang meliputi 4 negara yaitu Palestina, Yordania, Libanon dan Suriah. Dan kawasan ini memiliki fadhilah khusus baik secara tersirat maupun tersurat di dalam al Quran dan Hadits Nabawi. Berikut diantaranya :
1.      Negeri yang diberkahi
وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. (QS. al Anbiyaa`/21:71)
اللهم بارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا قالوا وفي نجدنا قال اللهم بارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا قالوا وفي نجدنا قال هناك الزلازل والفتن وبها أو قال منها يخرج قرن الشيطان 

“Ya Allah, berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman. Para sahabat bertanya: termasuk Nejed ? Rasulullah berdoa: Ya Allah berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman. 

Para sahabat masih bertanya: termasuk Nejed ? Rasulullah  menjawab: Di sana terjadi gempa dan huru-hara, dan di sana muncul dua tanduk syetan.” (HR.Bukhari)


2. Ahlu Haq ada di Syam
 لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق، لا يضرهم من خالفهم ولا من خذلهم حتى تقوم الساعة قال معاذ: هم أهل الشام

Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang keputusan Allah, dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Mu’adz berkata: dan mereka adalah penduduk Syam.“ (HR.Bukhari)

إذا فسد أهل الشام فلا خير فيكم لا تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة

“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang hari Kiamat." (HR. Tirmidzi)

3. Negeri Syam dinaungi sayap malaikat rahmat



طُوبَى لِلشَّامِ. فَقُلْنَا : لأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : لأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا


“Kebaikan pada negeri Syam.' Kami bertanya, 'Mengapa wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Karena Malaikat rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.”(HR. Tirmidzi)

4. Syam adalah negeri titik temu dan titik tolak


إنكم تحشرون رجالا و ركبانا و تجرون على وجوهكم هاهنا - و أومأ بيده نحو الشام

“Kalian akan dikumpulkan di sana – tangan beliau menunjuk ke Syam – jalan kaki atau naik kendaraan maupun berjalan terbalik (kepala di bawah) … “( HR. Ahmad)

5. Syam adalah negeri iman dikala fitnah melanda


إني رأيت كأن عمود الكتاب انتزع من تحت وسادتي فأتبعته بصري فإذا هو نور ساطع عمد به إلى الشام ألا وإن الإيمان إذا وقعت الفتن بالشام

“Aku bermimpi melihat tiang kitab ditarik dari bawah bantalku, aku ikuti pandanganku, ternyata ia adalah cahaya sangat terang hingga aku mengira akan mencabut penglihatanku, lalu diarahkan tiang cahaya itu ke Syam, dan aku lihat bahwa bila fitnah (konflik) terjadi maka iman terletak di negeri Syam.” (HR. Hakim)


6. Syam merupakan pusat negeri Islam di akhir zaman

وعقر دار المؤمنين الشام
“Ketahuilah, pusat negeri Islam adalah Syam.” (HR. Nasa'i)

7. Syam merupakan benteng umat Islam saat terjadinya perang akhir Zaman

تحت كل راية اثنا عشر ألفا ، فسطاط المسلمين يومئذ في أرض يقال لها: الغوطة ، فيها مدينة و يقال لها: دمشق 
Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. Benteng umat Islam saat itu di wilayah yang disebut Ghouthoh, daerah sekitar kota Damaskus.” (HR.Ahmad)
 8. Pasukan terbaik akhir zaman ada di Syam

سيصير الأمر إلى أن تكونوا جنودا مجندة ، جند بالشام وجند باليمن وجند بالعراق  قال ابن حوالة: خر لي يارسول الله إن أدركت ذلك ، فقال: عليك بالشام فإنها خيرة الله من أرضه ، يجتبى إليها خيرته من عباده ، فأما إن أبيتم فعليكم بيمنكم ، واسقوا من غُدُركم، فإن الله توكل لي بالشام وأهله

“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang : satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Ibnu Hawalah bertanya: Wahai Rasulullah, pilihkan untukku jika aku mengalaminya. Nabi bersabda : Hendaklah kalian memilih Syam, karena ia adalah negeri pilihan Allah, yang Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya, jika tak bisa hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah) dari kolam-kolam (di lembahnya), karena Allah menjamin untukku negeri Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud)
9. Tempat turunnya nabi Isa


وإن عيسى نازل فإذا رأيتموه فاعرفوه رجل مربوع على الحمرة والبياض ينزل بين ممصرتين كأن رأسه يقطر وإن لم يصبه بلل
 “Nabi Isa alaihissalam akan turun berdekatan dengan menara putih di timur Damsyik, dengan memakai pakaian kuning. Dua telapak tangannya terletak di atas sayap dua malaikat. Apabila dia menundukkan kepalanya meneteslah air. Apabila dia mengangkat kepalanya lagi, turunlah daripadanya seperti untaian mutiara.” (HR Muslim)

10. Tempat Kematian Dajjal

يأتي المسيح الدجال من قبل المشرق وهمته المدينة حتى ينزل دائر أحد - يعني: قريباً من جبل أحد - ثم تصرف الملائكة وجهه قبل الشام

“Al-Masih Dajjal akan datang dari arah timur, ia menuju Madinah, hingga berada di balik Uhud, ia disambut oleh malaikat, maka malaikat membelokkan arahnya ke Syam, di sana ia dibinasakan, di sana dibinasakan.” (HR.Ahmad)
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

BERFIKIR INSTAN


Banyak yang suka mie Instan karena kepraktisannya. Karena memang tidak butuh keahlian khusus dan waktu yang lama untuk bisa menghidangkan semangkuk makanan pengoyang lidah ini. Siapapun bisa, karena mulai dari bahan, resep dan bumbu menyatu dalam satu bungkusan. Cepat, murah, dan mudah, mungkin itu kata yang cukup mewakili aktivitas menghidangkan sampai mengunyah mie Instan.
Dewasa ini, cara instan ternyata sudah merambah ke banyak lini kehidupan. Mulai dari cara makan sampai ke banyak bidang, termasuk cara berfikir dan menggali ilmu.

Berpikir instan tentu tidak bisa disamakan dengan berpikir cepat dan tangkas. Berpikir cepat lebih punya landasan dan biasanya dilakukan oleh orang yang otaknya punya ‘jam terbang’.
Sedang instan lebih merupakan letupan. Cara pikir instan itu lebih menekankan pada solusi segera, biasanya reaksi dari kepanikan, aksi tanpa persiapan dan biasanya kurang memperhatikan jangka panjang dan dangkal tidak mendalam.

Dalam masalah ilmu agama, kebanyakan orang sekarang lebih suka kepada penjelasan yang praktis. Yang penting ada ayat ada hadits, selesai. Adapun analisa mendalam, membedah dengan ketajaman ilmu, sudah sepi peminat.

Yah, karena berfikir disiplin dan konsisten, manut, nurut dengan yang patut itu berat, tidak semua orang mau, kalau toh mau belum tentu mampu, sedang yang instan-instan, apalagi yang berfikir bebas tanpa kaidah dan aturan, dengan main comot sana paste sini itu enaknya bukan main.

Sebab yang menjadikan seseorang hobi Instan :

1. Miskin ilmu dan faqir pengetahuan.
Untuk bisa berfikir dengan alur yang benar. Dibutuhkan perangkat yang tidak sedikit, terlebih dalam masalah agama. Para ulama dahulu menghabiskan masa puluhan tahun untuk belajara menimba ilmu. Para Kiyai ketika masih jadi santri tekun mengaji kitab dari yang paling tipis sampai yang puluhan Jilid.
Sedangkan para ‘instan Mania’ untuk bisa berbicara hukum agama, bahkan tidak harus paham apa itu nahwu sharaf dan seabarek perangkat ilmu alat. Untuk menjelma menjadi mufti, yang mereka butuhkan hanya gedget dan koneksi interne.

2. Malas.
Apapun termasuk berfikir butuh keringat. Untuk bisa memahami agama dengan baik itu butuh perangkat. Ulama telah berlelah-lelah memudahkannya untuk kita. Yang ternyata juga masih tidak mudah-mudah mudah amat. Karena kita perlu melahap puluhan jilid kitab fiqih dari berbagai mazhab jika ingin benar-benar paham apa itu fiqih. Kita juga perlu memplototi kitab hadits, tafsir, lughah dan cabang keilmuan lainnya. Modal awalnya ‘Cuma’ harus bisa bahasa Arab.

Karena kalau mau mencari terjemah, dari jutaan kitab paling baru 5 % yang sudah naik cetak. Apa dengan modal 5 % itu antum mau sok ngacak- ngacak dan mencak-mencak soal agama ?
Semoga isi tulisan ini juga tidak termasuk hasil berpikir instan. Dan cara antum menyimak juga bukan seperti menyeduh mie instan.Karena itu silahkan direnungi, kalau perlu dikoreksi dan dikritisi. Oke Coy ?
Wallahu a'lam. ©AST

Friday, 8 December 2017

SEMUT


Siang yang melelahkan. Seharian menyelesaikan pekerjaan dan berbagai aktivitas yang serasa tak ada habis-habisnya. Kurebahkan tubuh di lantai depan televisi . Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitku bersentuhan dengan sejuknya lantai.

Tapi baru saja beberapa menit berbaring, kala mataku sudah mulai terpejam, tiba-tiba aku merasakan sebuah sengatan kecil dipunggung. Sontak aku membalikan badan. Dan ternyata benar sesuai dugaakanku, seekor semut pelakunya. Semut kecil berwarna hitam tanpak merayap dilantai seperti tidak merasa telah melakukan kesalahan yang menurutku itu sebuah dosa besar karena mengganggu istirahatku.

Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik 'gepeng' di lantai. Namun sebelum tanganku melayang, ia justru sudah mengacung-acungkan kepalan seperti menantangku bertinju. Kuturunkan kembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut', kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamit seolah mengatakan sesuatu kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang diucapkannya, tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya.

"He makhluk besar, anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat saya sedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah ..." Rupanya ia begitu marah karena aku bukan saja menghambat perjalanannya, tapi punggungku telah menindihnya sehingga ia terpaksa harus menggigitku.

Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya. Susah payah ia membawa sesuatu yang ternyata itu sisa-sisa makanan bekas sarapanku pagi tadi yang belum sempat kubersihkan. Beban yang dibawa semut itu memang kelewat besar bila dilihat dari ukuran tubuhnya. Sehingga membuatnya kadang oleng ke kanan kadang ke kiri, sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya mungkin untuk sekedar mengumpulkan tenaganya atau memperbaiki posisi beban yang dibawanya. Iba juga hati ini dibuatnya.

Kantuk yang tadi menyerang tiba-tiba hilang berganti dengan penasan. Kuikuti terus kemana semut mungil itu pergi. Rasanya aku ngin tahu di pojok mana ia tinggal dari bagian rumahku ini. Semut itu berhenti di sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. Di depan sebuah lubang kecil yang menganga, ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedang memanggil–manggil semut-semut di dalam lubang itu. Satu, dua, tiga .... empat dan .... lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawa makanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang dibawa semut pertama itu. Dan, eh ... satu lagi semut yang besarnya sama dengan pembawa roti keluar dari lubang.

Hmmm ... menurutku, si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari semut-semut yang berada di dalam lubang tersebut. Kelima semut-semut yang lebih kecil adalah anak - anaknya sementara satu semut lagi adalah istri si pembawa roti, itu terlihat dari perutnya yang agak buncit. "Mungkin ia sedang mengandung anak ke enamnya" pikirku. Semut suami yang sabar, ikhlas berjuang, gigih mencari nafkah dan penuh kasih sayang. Semut istri tawadhu' dan qanaah menerima apa adanya dengan penuh senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami, juga ibu yang selalu memberikan pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya. Dan, anak-anak semut itu, subhanallah ... mereka begitu pandai berterima kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Sungguh suami yang dibanggakan, sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang membuat ayah ibunya bangga.

Astaghfirullah ..., tiba-tiba tubuhku menggigil, lemas seperti tiada daya. Tidak terasa air mataku berlinang. Menetes membasahi lantai yang tadi menjadi jalan yang dilalui semut perkasa yang telah memberikan pelajaran yang tidak pernah akan aku lupakan. Teringat dipelupuk mataku ribuan wajah semut-semut yang pernah aku hajar hingga mati berkalang lantai ketika mereka mencuri makananku. Padahal, mereka hanya mengambil sisa-sisa makanan yang sudah tidak aku butuhkan. Padahal yang mereka ambil adalah sesuatu yang sangat sedikit yang boleh jadi itu adalah hak mereka atas rizki yang aku terima.

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kemudian manusia, binatang atau burung memakan tanaman itu kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR Muslim)

Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi, seakan terbayang tangisan anak–anak dan istri semut-semut itu tengah menanti ayah dan suami mereka yang tidak kunjung kembali, namun yang mereka dapatkan ternyata bukan makanan melainkan justru seonggok jenazah.
Ya, Allah... keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang perjuangan hidup, tentang kesabaran, tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika terusik, tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. Mereka ajari aku caranya mensyukuri nikmat Tuhannya, tentang bagaimana perlunya ikhlas, sabar, tawadhu' dan qanaah dalam hidup.

Hari-hari selanjutnya, ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagian manapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan menghalangi langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki atau tidak. Ingin rasanya aku hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat tinggal semut-semut itu. Tapi kupikir, lebih baik aku memberinya jalan atau bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri rizki tersebut, karena itu jauh lebih baik bagi mereka.

Sebagaimana kekasihku Shallallahu'alaihi wassalam telah bersabda : “Tidaklah ada rizki yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan dari hasil usaha tangannya.” (HR. Bukhari)

Wallahu a'lam

UDIN SEDUNIA


Tahukah antum bahwa nama Udin pernah tenar dan banyak disandang oleh orang-orang besar ? Uniknya ini terjadi di zaman perjuangan pembebasan al Aqsha dan melawan Tartar.
Imanudin Zanki, seorang imam mujahid, yang nanti perjuangannya diteruskan oleh anaknya Nurudin. Nurudin memiliki sahabat perjuangan namanya Asadudin, Asadudin mempunyai kakak namanya Najmudin. Najmudin inilah ayah dari Shalahuddin al Ayubi.

Shalahudin memiliki guru yang bernama Aq Syamsudin, Imam Nawawi juga digelari Syarafudin, Ibnu Taimiyah bernama asli Taqiyudin, imam adz Dzahabi namanya Syamsudin, penakluk Tartar sultan Syaifudin Qutuz, kemudian diteruskan sultan mamaluk lainnya yang terkenal yaitu Ruqnudin Baibars.

Nama udin pernah disandang oleh orang-orang luar biasa. Semoga kita semua dan para pemilik nama Udin hari ini bisa meneladani mereka.
 
Yang namanya Udin, bapaknya Udin, anaknya Udin, saudaranya Udin, suaminya Udin, mantunya Udin, boleh absen disini ...