Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts

Sunday, 13 October 2024

KEUTAMAAN MEMAAFKAN


Berikut ini adalah nasehat singkat dari ayat, hadits dan sebagian qaul ulama tentang keutamaan memaafkan dan berlapang dada terhadap gangguan atau kesalahan orang lain.

Allah ta’ala berfirman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

 

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”(QS. Al A’raf : 199)

Nabi ﷺ bersabda :

‌وَمَا ‌زَادَ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌بِعَفْوٍ ‌إِلَّا ‌عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ عَبْدٌ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

"Tidaklah seseorang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang rendah hati karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Ahmad)

Sayidina Umar bin Abdul Aziz rahiahullah berkata :

أحب الأمور إلى الله ثلاثة: العفو عند المقدرة، والقصد في الجدة، والرفق بالعبدة

"Tiga hal yang paling dicintai Allah: memaafkan saat mampu untuk membalas, bersikap sederhana ketika kaya, dan berlemah lembut kepada hamba sahaya."[1]

Al imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :

احتمل لأخيك إلى سبعين زلة قيل له وكيف ذلك يا أبا علي قال لأن الأخ الذي آخيته في الله ليس يزل سبعين زلة

“Sabarlah dalam menanggung kesalahan saudaramu hingga tujuh puluh kesalahan." Dikatakan kepadanya: "Kenapa harus begitu ?" Beliau menjawab: "Karena seseorang yang engkau jadikan sebagai saudara karena Allah, ia akan senantiasa berbuat salah hingga tujuh puluh kali."[2]

Al Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

لما عفوت ولم أحقد على أحد أرحت نفسي من ظلم العداوات

"Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan dendam terhadap siapapun,
Aku pun mengistirahatkan diriku dari buruknya permusuhan."[3]

Al imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata :

توطين نفسه على لزوم العفو عن الناس كافة، وترك الخروج لمجازاة الإساءة؛ إذ لا سبب لتسكين الإساءة أحسن من الإحسان، ولا سبب لنماء الإساءة وتهييجها أشد من الاستعمال بمثلها

"Selayaknya orang yang berakal untuk menanamkan dalam dirinya sifat senantiasa memaafkan kesalahan orang lain dan meninggalkan pembalasan atas keburukan yang diterimanya. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk meredam kejahatan daripada berbuat baik, dan tidak ada yang lebih memperparah kejahatan daripada membalas dengan kejahatan yang serupa."[4]

Al imam Ayyub as Sikhtiyani rahimahullah berkata :

 لا ينبل الرجل حتى يكون فيه خصلتان: العفة عما في أيدي الناس والتجاوز عنهم

"Seseorang tidak akan mencapai kemuliaan sejati sampai ia memiliki dua sifat : Menjaga diri dari berharap apa yang ada di tangan manusia, dan berlapang dada terhadap sikap mereka.”[5]

Semoga bermanfaat


[1] Raudhah al Uqala’ hlm. 131

[2] Raudhah al Uqala hlm. 168

[3] Diwan asy Syafi’i hlm. 111

[4] Raudhah al Uqala’ hlm. 131

[5] Ittihaf al Maharah (18/456)

Thursday, 13 July 2023

CABANG ILMU BARU

 

 
Dahulu diskusi atau debat di kalangan para ulama untuk menguji sebuah pendapat adalah aktivitas yang cenderung menyenangkan dan bermartabat. Karena semua pihak yang terlibat di dalamnya memahami tentang kaidah dan segala perangkat yang dibutuhkan dalam diskusi keilmuan.
 
Meskipun dulu dan sekarang sama saja akan selalu ada yang ketika beradu argumen nggak mau kalah, tapi mereka melakukannya dengan cara yang elegan. 
 
Karena kalau caranya murahan dan tak bermutu, tentu dia akan malu karena tahu kalau orang lain itu mengetahui akan kengawurannya itu.
 
Sedangkan hari ini, arena diskusi dan perdebatan ilmiah berubah menjadi begitu buas dan mengerikan. Kata-kata kotor, sumpah serapah dan caci maki tak jarang kita temui.
 
Hal ini penyebabnya, bukan hanya karena medannya sudah semakin luas yang meliputi dunia nyata dan maya, tapi juga karena yang dihadapi di sana bahkan orang-orang yang tak memiliki modal kecuali kerasnya urat leher.
 
Mereka inilah yang kalau sudah bicara bisa seenaknya karena memang tak kenal aturan, tak butuh kaidah bahkan aqidah. 
 
Sehingga kalau kemudian muncul semacam cabang keilmuan untuk membungkam orang-orang bodoh yang ikut campur yang bukan urusannya, ini adalah ilmu temuan belakangan.
 
Ulama terdahulu nyaris tidak mengenal adanya jenis ilmu ini, karena orang-orang bodoh zaman dahulu tidaklah tampil ke depan, atau hadir di meja diskusi, apa lagi lagi sampai terlibat dalam dunia tulis-menulis.
 
Berbeda dengan zaman hari ini. Setiap orang, seawam apapun dia bisa dengan pedenya berkoar-koar di atas mimbar bahkan menerbitkan karya-karya tulis yang tebal.
 
Bila dahulu untuk bisa menjadi guru yang mengajarkan ilmu, seseorang dituntut memiliki kemampuan di tingkat tertentu, sekarang untuk jadi pengajar atau ahli agama nyaris semua orang bisa melakukannya.
Padahal ulama hari ini sealim apapun tidak serta merta bisa beralih profesi jadi dokter atau berubah jadi insinyur. Tapi sebaliknya, dokter atau insinyur bisa berubah dan sah jadi ahli agama dalam hitungan hari bahkan hanya beberapa jam.
 
Seorang tukang ojek, pedagang, petani ataupun kuli bangunan sekalipun bisa berubah menjadi mufti lalu berfatwa halal haram kalau dia mau. Caranya tak harus dengan ngaji apalagi sampai nyantri bertahun-tahun, tapi cukup dengan hanya merubah penampilannya !
 
Maka sudah seharusnya hidup di situasi seperti ini, kita harus lebih berhati-hati dalam menerima informasi apa lagi yang kaitannya dengan ilmu agama. Biasakan menelaah dengan cermat dan meneliti dari mana sumbernya sebelum menelannya.
 
Sebagaimana wasiat sebagian ulama klasik terdahulu :
 
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Sesungguhnya ilmu adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah dengan baik dari siapa kalian mengambil ilmu tersebut."
 
Wallahu a'lam

MUTIARA NASEHAT ALI BIN ABI THALIB bagian II

 


Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

الناس نيام، فإذا ماتوا انتبهوا

“Manusia itu tertidur, ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.”[1]

ثبات الملك بالعدل

“Kokohnya negara adalah karena keadilannya.”[2]

التهلكة هي: أن يذنب العبد ذنبا ثم لا يعمل بعده خيرا حتى يهلك

“Kebinasaan sebenarnya adalah ketika seorang hamba melakukan dosa kemudian ia tidak mau melakukan satu kebaikan setelahnya, sampai ia binasa.”[3]

لا شرف مع سوء أدب

“Tidak ada kemuliaan bersama buruknya adab.”[4]

 

‌حدثوا ‌الناس ‌بما ‌يعرفون، أتحبون أن يكذب الله ورسوله

“Berbicaralah dengan manusia dengan apa yang mereka bisa memahaminya. Apakah kalian mau Allah dan Rasulnya di dustakan ?”[5]

‌للمرائي ‌ثلاث ‌علامات يكسل إذا كان وحده وينشط إذا كان في الناس ويزيد في العمل إذا أثني وينقص إذا ذم

“Orang yang riya itu ada tiga tandanya : Malas beramal jika sendiri tapi semangat jika bersama orang banyak. Bertambah amalnya jika dipuji dan berkurang amalnya jika dicela.”[6]

صدق المرء نجاته. صحة البدن في الصوم. الصبر يورث الظفر

“Kejujuran seseorang adalah sumber kesuksesannya, kesehatan badan ada pada puasa dan kesabaran akan mewariskan kemenangan.”[7]

وإن الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد؛ لا خير في جسد لا رأس له

“Sesungguhnya kedudukan kesabaran bagi iman itu seperti kedudukan kepala atas jasad. Tidak akan ada gunanya badan yang tidak ada kepalanya.”[8]

‌إنك ‌إن ‌صبرت ‌جرى ‌عليك ‌القدر ‌وأنت ‌مأجورٌ؛ وإن جزعت، جرى عليك القدر، وأنت مأزور

 “Sesungguhnya jika engkau bersabar, memang taqdir akan tetap terjadi  padamu tapi engkau akan mendapatkan pahala. Dan jika engkau tidak bersabar, taqdir juga tetap terjadi padamu dan engkau akan diberi dosa.”[9]

‌بلاء ‌الإنسان ‌من ‌اللسان

“Musibah yang menimpa seseorang, disebabkan oleh lisannya.”[10]

إن النعمة موصلة بالشكر، والشكر معلق بالمزيد، وهما مقرونان في قرن، فلن ينقطع المزيد من الله حتى ينقطع الشكر من العبد

"Sesungguhnya kenikmatan akan terus berlanjut bila diiringi dengan syukur, dan rasa syukur mendatangkan tambahan kenikmatan. Keduanya selalu beriringan laksana sepasang tanduk. Allah tidak akan berhenti menambahkan kenikmatan kepada hamba sampai ia berhenti bersyukur kepada-Nya."[11]

إيمان المرء يعرف بأيمانه

“Keimanan seseorang bisa diketahui dari janji-janjinya.”[12]

إن الحق والباطل لا يعرفان بأقدار الرجال، وبإعمال الظن! اعرف الحق تعرف أهله، واعرف الباطل تعرف أهله

 “Seungguhnya kebenaran dan kebatilan itu tidak dikenal dengan melihat ukuran kedudukan seseorang, atau karena sekedar prasangka. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa-siapa yang mengusungnya. Kenalilah kebatilan, maka engkau juga akan mengetahui siapa-siapa pengusungnya.”[13]

باكر تسعد

“Bersegeralah (dalam beramal) maka engkau akan beruntung.”[14]

من لانت كلمته، وجبت محبته

“Siapa yang lemah lembut kata-katanya, maka sudah menjadi keharusan ia akan dicintai banyak orang.”[15]

ولا يستحي إذا سئل عما لا يعلم أن يقول: لا أعلم، ولا يستحي أن يتعلم إذا لم يعلم

 

“Jangan kalian malu ketika ditanya tentang hal yang kalian memang tidak tahu untuk mengatakan : ‘Aku tidak tahu’. Dan jangan kalian malu untuk belajar jika tidak mengetahui.”[16]

تغافل عن المكروه توقر

“Taghaful (tak ambil pusing) terhadap hal yang tak disukai akan mendatangkan kehormatan.”[17]

حلمك على السفيه يكثر أنصارك عليه

“Sikap santunmu kepada orang yang berlaku buruk kepadamu, akan memperbanyak pembelamu terhadap kejahatannya.”[18]

نعم القرين الرضى

“Sebaik-baik pendamping adalah sifat Ridha.”[19]

‌العلم ‌خير ‌من ‌المال، العلم يحرسك وأنت تحرس المال. العلم يزكو على العمل والمال تنقصه النفقة

 

“Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu itu menjagamu, sedangkan harta engkau yang menjaganya. Ilmu bertambah ketika dibagikan, sedangkan harta akan berkurang ketika diberikan.”[20]

‌تكلموا ‌تعرفوا، فإن المرء مخبوء وراء لسانه

“Bicaralah, maka engkau akan dikenal dari cara bicaramu. Karena hakikatnya rahasia seseorang itu tersembunyi di belakang lisannya.”[21]

Wallahu a’lam.


[1] Al I’jaz wa Ijaz hal. 35

[2] Majani al Adab (2/67)

[3] Mwaidh ash Shahabah hal. 66

[4] Al I’jaz wa Ijaz hal. 35

[5] Riwayat Bukhari no. 127

[6] Ihya Ulumuddin (3/296)

[7] Majani al Adab (2/67)

[8] Al Iman hal. 85

[9] Tarikh Damsyiq (9/139)

[10] Majani al Adab (2/67)

[11] Mawa’idh as Shahabah hal. 51

[12] Majani al Adab (2/67)

[13] Ansab al Asyraf (2/238)

[14] Majani al Adab (2/67)

[15] Al Aqdud Farid (2/138)

[16] Al Iman hal 85

[17] Majani al Adab (2/67)

[18] Al Aqdud Farid (2/138)

[19] Tadzkiratul Hamudiyah (1/251)

[20] Hilyatul Aulia (1/80)

[21] Dirasat wa Taujihat al Islamiyah hal. 89