Showing posts with label Tadabur Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Tadabur Qur'an. Show all posts

Wednesday, 10 February 2021

TADABUR QUR'AN 9 : MENEBAR RASA AMAN

Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata kepada saudaranya, Benyamin : 

  فَلَا تَبْتَئِسْ 
"Jangan engkau berduka..." (QS. Yusuf : 69)

Nabi Syu'aib 'alaihissalam menenangkan Musa dengan berkata :

  لَا تَخَفْ 
"Jangan engkau takut..." (QS. al Qashas : 25)

Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam menghibur Abu Bakar dengan mengatakan :

 لَا تَحْزَنْ 

"Jangan engkau bersedih..." (QS. At Taubah : 40)

Saudaraku, menebar ketenangan, kedamaian dan rasa aman kepada jiwa-jiwa yang sedang bersedih, gelisah dan takut adalah metode para nabi dalam menyampaikan dakwah.

Sedangkan menimbulkan ketakutan, kepanikan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat adalah cara-cara setan dalam membuat kesesatan.

Dinukil dari tulisan Syekh Dr. M. Ar Rabi'ah dengan tambahan.

©AST
═══ ❁✿❁ ═══
SUBULANA
 ⤵️https://t.me/subulana
📱facebook.com/AhmadSyahrinThoriq
🌐www.konsultasislam.com

Sunday, 1 July 2018

PENYEBUTAN MANUSIA DAN JIN DALAM AL QUR'AN


            Diantara bentuk keunikan sekaligus keagungan kalimat dari ayat-ayat al Qur’an adalah : ketika menyebut sesuatu yang diawalkan pasti ada keutamaan atau kekhususan daripada sesuatu yang disebut belakangan.

Kita ambil salah satu contohnya, yakni ketika al Qur’an menyebut Jin dan manusia. Disurah al Isra ayat ke 88, kata manusia disebut lebih dahulu, sedangkan disurah ar Rahman Jin yang pertama kali disebut, berikut ayatnya : 

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَـذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya.” (QS.Al-Isra’: 88)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kalian sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah.” (QS.Ar-Rahman: 33)

 Apa ibrahnya ?
            Disurah al Isra ketika al Qur’an berbicara tentang kemampuan linguistik, maka manusia yang dissebut terlebih dahulu dari jin, hal ini karena kemampuan manusia dalam urusan kefasihan berbicara, sastra dan menjelaskan perkataan lebih besar dari kemampun jin.
            Namun ketika diayat berikutnya saat berbicara tentang kemampuan untuk menembus penjuru langit dan bumi, jinlah yang disebut terlebih dahulu, Karena bangsa in secara umum lebih mampu melakukannya daripada manusia.  Sebab  mereka memiliki kecepatan bergerak menembus menembus langit dan tempat-tempat yang jauh.

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ
“Dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya).” (QS.Al-Jin: 9)
Wallahu a’lam.

Wednesday, 27 June 2018

PERBEDAAN PERLINDUNGAN MU’AWIDZATAIN


            Mari sejenak kita perhatikan surah al Mu’awidzatain, yakni al Falaq dan an Nas. Dua surah ini memiliki fadhilah jika dibaca akan melindungi pembacanya dari keburukan, dalam hadits disebutkan : “Setelah turunnya dua surah ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melengkapkan kedua-duanya sebagai bacaan untuk membentengi dari pandangan buruk jin maupun manusia.” (HR. Tirmidzi)

            Kita akan dapati fakta berikut ini : Dalam surah al Falaq, kita meminta perlindungan kepada Allah satu kali dari tiga jenis keburukan,s edangkan dalam surah an Nas, kebalikannnya, kita meminta kepada Allah perlindungan sebanyak tiga kali untuk satu keburukan. Perhatikan :

Surah al Falaq

Sekali meminta perlindungan
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.”
Berlindung dari tiga hal
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
 “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.”
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
 “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.”
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Surat An-Nas    

Meminta perlindungan dengan tiga sifat Allah :  
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.”
مَلِكِ النَّاسِ
 “Raja manusia…”
إِلَهِ النَّاسِ
“Sembahan manusia…”

Sementara yang kita ingin berlindung darinya hanya satu yaitu :      
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
 “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.”

Kenapa demikian ?

            Para ulama menjelaskan karena pada surat Al-Falaq kita memohon perlindungan kepada Allah untuk hal yang bersifat keselamatan fisik diri kita, dari keburukan yang sifatnya jasmaniyah Sedangkan pada Surat An Nas kita memohon perlindungan untuk keselamatan agama, yakni dijauhkan dari bisikan syetan.

            Demikianlah, keselamatan agama lebih penting dari keselamatan yang bersifat jasmaniyah lahiriyah. =Wallahu a’lam.

PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN


Dalam al Qur’an kata Sam’u (pendengaran) dan Bashor (penglihatan) sering disebut secara beriringan. Namun ada yang unik, lafadz ayat selalu memposisikan keduanya dengan :

1.     Pendengaran selalu didahulukan penyebutannya dari penglihatan, contoh ayat :

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran dan penglihatan.”
(QS. An Nahl :78)

2.     Pendengaran selalu disebut dalam bentuk tunggal (mufrad) sedangkan penglihatan disebut dalam bentuk jama’ (banyak).

Lihat ayat diatas, pendengaran disebut dengan السمع (tunggal) bukan الأسماع (jama’). Sedangkan penglihatan disebut dengan kata الأبصار (jama’), padahal bentuk tunggalnya البصر.
Contoh ayat lainnya :
يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ
“Dari persaksian yang dilakukan oleh pendengaranmu, dan penglihatan-penglihatan kalian…” (Q.S. Fushshilat: 22)

Kata pendengaran pada ayat diatas juga menggunakan kata sam’u (tunggal) sedangkan penglihatan menggunakan kata Abshor (jama’).

Apa hikmahnya ?

Hikmah sam’u didahulukan dari Bashor

Hal ini karena  panca indra manusia yang pertama kali berfungsi ketika dilahirkan adalah pendengaran, dan penglihatan akan berfungsi belakangan. Bahkan menurut beberapa ahli, Janin di rahim sudah dapat mendengar, sementara bayi yang lahir butuh beberapa waktu untuk dapat melihat.

Hikmah sam’u disebut tunggal dan Bashor bentuknya jama’ 

Sebabnya ternyata pendengaran hanya bisa fokus terhadap satu objek dalam satu waktu, sementara penglihatan bisa menangkap banyak objek. Telinga hanya dapat fokus kepada satu suara sementara mata dapat melihat banyak hal dalam sekilas.

Cobalah mengujinya, minta beberapa orang untuk berkata-kata dengan kalimat berbeda secara bersamaan, pasti hasilnya kita akan kesulitan menangkap semua perkataan.
Selanjutnya, mintalah beberapa orang berbuat sesuatu dihadapan kita dalam aksi yang berbeda-beda, kemungkinan besar kita akan bisa menangkap semua dan bahkan bisa menceritakan kembali.

Wallahu a’lam.