Showing posts with label Fadhilah A'mal. Show all posts
Showing posts with label Fadhilah A'mal. Show all posts

Sunday, 11 June 2023

SYARAT DIAMALKANNYA HADITS DHA’IF

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Kebolehan mengamalkan hadits dha’if tentu saja tidaklah bersifat mutlak, namun dengan syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan. Berkata Syihabudin Muhammad bin Ahmad al Khuwayi asy Syafi’i rahimahullah :

 وقُيِّدَ قولُ الجمهور بثلاثة قيود:أن لا ‌يكون ‌الضعف ‌شديداً .أن يكون أصل العمل الذي ذكر فيه الترغيب والترهيب ثابتاً.أن لا يعتقد أن النبي صلّى الله عليه وسلّم قاله

 “Jumhur ulama telah membuat ketetapan tiga hal (agar hadits dha’if bisa diamalkan), yaitu : Hendaknya keadaannya tidak terlalu lemah, lalu amal yang disebutkan adalah berdasarkan hadits shahih, dan selanjutnya tidak memastikan hadits itu dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam.”[1]

1.     Kelemahannya tidak terlalu parah

Al imam Suyuthi rahimahullah berkata :

أن يكون الضعف غير شديد فيخرج من انفرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه نقل العلائي الاتفاق عليه

 “Hadits yang diriwayatkan hanya oleh satu perawi yang dikenal berbohong atau diduga pembohong, begitu juga hadits dari rawi yang sangat banyak kekeliruannya tidak dapat diamalkan. Imam al ‘Alla’i menukil bahwa syarat pertama ini disepakati oleh para ulama.”[2]

Keterangan yang sama juga disebutkan oleh imam Syathibi[3] dan Abul Hasan al Mubarakfury.[4]

2.     Diamalkan dalam masalah fadhail a’mal dan yang semisal

Telah jelas di bahasan sebelumnya bahwa penggunaan hadits dha’if bukanlah untuk menetapkan sebuah hukum, tapi untuk hal yang sifatnya anjuran agama. Berkata al imam Ramli rahimahullah berkata :

وعلم أيضا أن المراد الأعمال وعلم أيضا أن المراد بفضائل الأعمال الترغيب والترهيب وفي معناها القصص ونحوها

“Dan dapat diketahui dari penjelasan yang telah lalu bahwa yang dimaksud fadhailul amal adalah anjuran dan ancaman pada suatu amal, juga kisah-kisah, dan hal  yang semisalnya.”[5]

Bahkan tidak ada kewajiban menjelaskan kedha’ifan sebuah hadits jika itu hanya berkaitan dengan kisah-kisah untuk diambil hikmahnya, selama tentunya kelemahannya tidak terlalu parah atau berstatus sebagai hadit palsu.

al imam Ibnu Shalah berkata :

قد أجاز بعض العلماء رواية الحديث الضعيف من غير بيان ضعفه بشروط: أولا أن يكون الحديث في القصص أو المواعظ أو فضائل الأعمال أو نحو ذلك مما لا يتعلق بصفة الله والعقائد والا بالحلال والحرام وسائر الأحكام الشرعية وأن لا يكون الحديث موضوعا أو ضعيف شديد الضعف

 

“Sebagian ulama telah membolehkan untuk meriwayatkan hadits dhaif tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan beberapa syarat diantaranya hadits tersebut berisi kisah, nasihat-nasihat, atau keutamaan amalan, dan tidak berkaitan dengan sifat Allah, akidah, ketetapan halal haram, berkaitan seluruh hukum syariat, dan keadaannya bukan hadits maudhu’, dan kelemahannya tidak terlalu kuat.”[6]

3.     Tidak memastikan atau meyakini itu dari Rasulullah

Syarat ketiga ini dinyatakan oleh sebagian ulama, yakni ketika seseorang membawakan hadits lemah atau mengamalkannya, ia tidak boleh mengkaitkan hal itu dengan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Karena memang secara dugaan dan kaidah ilmiah tidak memenuhi syarat untuk dinisbahkan kepada sang Nabi.

Namun syarat ini tidak disepakati oleh ulama. Hanya sebagian saja yang menetapkannya. Berkata al imam Ibnu Atsir rahimahullah :

‌أن ‌لا ‌يعتقد ‌عند ‌العمل ‌به ‌ثبوته لئلا ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم ما لم يقله

 “Dan hendaknya tidak mengkaitkan ketika mengamalkannya ini dari beliau shalallahu’alaihi wassalam. Supaya tidak mengalamatkan sesuatu kepada Nabi apa yang tidak beliau katakan.”[7]

Al imam Suyuthi rahimahullah juga menyatakan hal yang sama :

أن لا يعتقد عند العمل به ثبوته، بل يعتقد الاحتياط. ‌هذان ‌ذكرهما ‌ابن ‌عبد ‌السلام ‌وابن ‌دقيق ‌العيد

 “Tidak mengkaitkan ketika mengamalkannya ini dari beliau shalallahu’alaihi wassalam. Dua syarat terakhir ini disebutkan oleh Imam Izzudin bin Abdissalam dan Ibn Daqiq Al‘Id.”[8]

Wallahu a’lam.


[1] Nidzam Ulum al Hadits hal. 119

[2] Tuhfatul Abrar hal. 25

[3] Al I’thisham (1/125)

[4] Marqat al Mafatih (1/396)

[5] Fatawa ar Ramli (4/383)

[6] Irsyad ath Thulab (1/270)

[7] Jami’ al Ushul (1/109)

[8] Tadrib ar Rawi (1/351)

PENGGUNAAN HADITS LEMAH MENURUT MAYORITAS ULAMA

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Dalam pandangan jumhur ulama, hadits dhaif bisa digunakan untuk beberapa hal seperti menganjurkan beramal shalih atau memberikan ancaman terhadap sebuah dosa, juga dalam masalah keteladanan akhlaq dan cerita sejarah. Hadits dha’if atau lemah barulah tidak boleh digunakan dalam masalah hukum halal dan haram apalagi dalam urusan aqidah.

Berikut ini sebagian saja perkataan para ulama dalam masalah ini :

Al imam Ibnu Mundzir rahimahullah berkata :

يخرج الإسناد الضعيف إذا لم يجد في الباب غيره، لأنَّه أقوى عنده من رأي الرجال

 “Diriwayatkan hadits yang sanadnya lemah jika tidak ditemukan dalam sebuah bab permasalahan kecuali hadits tersebut. Karena hadits lemah itu masih lebih kuat dari pendapat seorang ulama.”[1]

Al imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

والحديث الضعيف أحب إلي من الرأي

 “Dan hadits yang lemah sekalipun masih lebih aku sukai dari pada pendapat seseorang.”[2]

Beliau juga berkata :

وإذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الأعمال، وما لا يَضَعُ حُكْمًا ... تساهلنا في الأسانيد

 “Jika kami meriwayatkan dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam masalah fadhail a’mal, yang tidak berkaitan dengan perkara hukum ... maka kami melonggarkan dalam masalah sanad.”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

فهذا هو الإمام أحمد يقول إذا جاء الحلال والحرام شددنا في الأسانيد؛ وإذا جاء الترغيب والترهيب تساهلنا في الأسانيد؛ وكذلك ما عليه العلماء من العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال....نظير هذا قول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الذي رواه البخاري عن عبدالله بن عمرو: بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج

 “Karena inilah imam Ahmad bin Hanbal beliau berkata : ‘Jika dalam perkara halal dan haram maka kami memperketat dalam masalah sanad. Adapun dalam masalah anjuran agama dan ancaman dari berbuat dosa, maka kami melonggarkan dalam urusan sanad. Dan demikianlah para ulama yang membolehkan hadits lemah sebagai fadhilah a’mal.

Pendapat ini disandarkan kepada dalil sabda Nabi shalallahu’alaihi wassalam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Ibnu ‘Amru : ‘Sampaikan dariku meski hanya satu ayat. Dan sampaikan riwayat israiliyah dan itu tidak apa-apa...”[4]

Abu Hatim rahimahullah berkata :

فهذا يكتب من حديثه الترغيب والترهيب، والزهد والآداب، ولا يحتج بحديثه في الحلال والحرا

 “Karena inilah boleh menuliskan hadits (lemah) dalam masalah menganjurkan atau menakut-nakuti. Juga dalam masalah zuhud dan adab, tapi tidak boleh dalam masalah halal dan haram.”[5]

أنَّ ضعيف الحديث أولى عنده من الرأي والقياس

Al imam Ibnu Hazm al andalusi rahimahullah berkata :

إن جميع الحنفية على أن مذهب إمامهم ‌أن ‌ضعيف ‌الحديث ‌أولى ‌عنده ‌من ‌الرأي ‌والقياس

“Sesungguhnya semua ulama Hanafiyah mereka di atas pendapat imam mereka yakni bahwa hadits lemah masih lebih tinggi di sisinya dari pendapat ulama ataupun qiyas.”[6]

Al Khatib al Baghdadi rahimahullah berkata :

ينبغي للمحدث أنْ يتشدَّدَ في أحاديث الأحكام التي يفصل بها بين الحلال والحرام... وأما الأحاديث التي تتعلق بفضائل الأعمال وما في معناها فيحتمل روايتها عن عامة الشيوخ

 “Sudah seharusnya hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum itu diperketat, yakni yang menjelaskan tentang perkara halal dan haram... adapun hadits dalam masalah yang berkaitan dengan keutamaan beramal dan yang semakna dengan itu maka dibolehkan meriwayatkan dari ulama secara umum.”[7]

Al Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata :

خُذُوا هذه الرغائب وهذه الفضائل من المشيخة، فأما الحلال والحرام فلا تأخذوه إلاَّ عمن يعرف الزيادة فيه من النقص

“Ambilah riwayat tentang anjuran dan tentang keutamaan beramal dari guru manapun.  Adapun dalam masalah halal dan haram maka jangan engkau mengambil kecuali dari seseorang yang telah diketahui keutamaannya dan terjaganya dari kekurangan (dalam standar hadits).”[8]

Zakariya al Anbari rahimahullah berkata :

الخبر إذا وَرَدَ لم يُحَرِّم حلالاً، ولم يُحِل حرامًا، ولم يُوجِب حُكْمًا، وكان في ترغيب أو ترهيب أو تشديد أو ترخيص، وَجَبَ الإغماض عنه، والتساهل في رواته

 “Khabar jika riwayatnya bukan tentang halal dan haram, kewajiban dan hukum. Tapi tentang anjuran atau peringatan atau ancaman atau mendorong amal, maka hendaknya memberikan banyak toleransi dan memudahkan dalam riwayatnya.”[9]

Al imam Ibnu  Abidin al Hanafi rahimahullah berkata :

وقد تقرر أن ‌الحديث ‌الضعيف يجوز العمل به في الفضائل

“Dan telah tetap adanya bahwa hadits dha’if boleh untuk diamalkan dalam masalah keutamaan (beramal).”[10]

Al Imam Qulyubi al Hanafi rahimahullah berkata :

‌للعمل ‌بالحديث ‌الضعيف ‌في ‌فضائل ‌الأعمال

 “Karena hadits lemah itu boleh digunakan untuk fadhilah amal.”[11]

Al imam Kirmi al Hanbali rahimahullah berkata :

‌...لجواز ‌العمل ‌بالحديث ‌الضعيف ‌في ‌فضائل ‌الأعمال

“... Karena dibolehkan beramal dengan hadits yang lemah dalam masalah fadhail amal.”[12]

Al imam Muhyiddin an Nawawi rahimahullah berkata :

قال العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويستحب العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف، ما لم يكن موضوعًا، وأما الأحكام كالحلال والحرام والبيع والنكاح والطلاق وغير ذلك فلا يعمل فيها إلا بالحديث الصحيح أو الحسن

 “Para ulama dari kalangan ahli hadits, ahli fiqih dan dari yang lainnya berpendapat bahwa boleh dan bahkan disukai menggunakan hadits lemah dalam masalah menganjurkan amal, mendorong dalam kebaikan atau menakut-nakuti.  Selama itu bukan hadits palsu. Adapun untuk perkara hukum seperti halal, haram, jual beli, nikah, cerai dan yang semisalnya, maka tidak boleh menggunakan kecuali hadits shahih atau hasan.”[13]

Bahkan sang imam dalam hal ini mengklaim adanya ijma’ ulama :

اتفق العلماءُ ‌على ‌جواز ‌العمل ‌بالحديث ‌الضعيف في فضائل الأعمال

 “Telah bersepakat para ulama atas bolehnya menggunakan hadits lemah dalam perkara fadhilah amal.”[14]

وقد اتفق الأئمة من المحدثين والفقهاء وغيرهم كما ذكره النووي وغيره على جواز العمل بالحديث الضعيف في الفضائل والترغيب والترهيب، لا في الأحكام ونحوها ما لم يكن شديد الضعف

 “Para imam dari kalangan ahli hadits dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam an Nawawi dan lainnya, tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah.”

 Al imam Ar Ru’aini al Maliki rahimahullah juga mengklaim adanya ijma’ :

 

‌فقد ‌اتفق ‌العلماء ‌على ‌جواز ‌العمل ‌بالحديث ‌الضعيف ‌في ‌فضائل ‌الأعمال ‌واغتناما ‌للثواب ‌الوارد

 “Dan telah bersepakat para ulama atas bolehnya mengamalkan hadits yang lemah dalam masalah fadhail amal dan untuk meraih pahala dari sebuah amal shahih.”[15]

 

Wallahu a’lam.

 

 



[1] Muqadimah Ibn Shalah hal. 32

[2] Fath al Mughits (1/109)

[3] Madkhal ilal Iklil hal. 13

[4] Majmu’ Fatawa (18/60)

[5] Ilmu al Rijal hal. 58

[6] Marqat al Mafatih (3/846)

[7] Jami’ li Akhlaq ar Rawi (2/90)

[8] Al Jami’ (2/91)

[9] Al Kifayah hal. 163

[10] Hasyiah Ibnu Abidin (1/459)

[11] Hasyiah al Qulyubi (1/64)

[12] Ghayah al Muntaha (1/202)

[13] Al Adzkar hal. 47

[14] Arba’in Nawawi hal. 42

[15] Mawahib al Jalil (1/17)

Wednesday, 18 January 2023

DUA SENJATA MUKMIN

Kehidupan manusia hakikatnya hanya berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. silih berganti dan berputar seperti roda pedati. Ada saatnya di atas, ada waktunya terbenam di lumpur.

Yang mana silih bergantinya keadaan hidup itu secara umum hanya terbagi menjadi dua : Keadaan menyenangkan dan keadaan yang menyedihkan. Maka dalam menghadapinya, seorang mukmin menggunakan senjata sabar dan syukur. Sabar dikala menghadapi musibah, bencana, kesedihan dan hal tak menyenangkan lainnya. Dan Syukur dikala mendapatkan karunia, kebahagiaan, kegembiraan dan hal menyenangkan lainnya.

 

            Sabar dan syukur adalah termasuk jenis amal yang sangat agung dalam Islam. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa iman itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah sabar, dan bagian kedua adalah syukur. Dan siapa yang sempurna dalam syukur dan sabar, maka sempurnalah imannya.

 

Mughirah bin Musqim berkata :

 

الصبر نصف الإيمان، والشكر نصف الإيمان، واليقين الإيمان كله، ألم تر إلى قوله: إنَّ فِي ذلكَ لآياتٍ لكُلّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

 

“Sabar itu separuh iman, Syukur separuh lainnya. Dan yakin adalah keimanan seluruhnya. Sebagaimana firman Allah  : ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur.” (QS. Ibrahim : 5)[1]

 

            Melalui tulisan sederhana ini, kami akan membahas sedikit tentang bab syukur dan sabar, selamat menyimak.

Bab Sabar

Bahasan ini akan kami bagi menjadi empat bahasan, yakni (1) Bab sabar (2) Bab syukur (3) Kisah menakjubkan para ulama dalam kesabaran (4) Kisah menakjubkan ulama dalam syukur mereka.

Pengertian Sabar

Tentang definisi apa itu kesabaran,  ulama menjelaskan dalam berbagai bentuk terminologi yang berbeda-beda. Dan yang paling baik dan banyak digunakan oleh para ulama[2] adalah apa yang dinyatakan oleh Ibnu Hayan, sebagai mana yang dinukil oleh al imam ‘Aini rahimahullah :

‌الصبر ‌حبس ‌النفس ‌على ‌المكروه

“Sabar adalah menahan diri dalam menghadapi hal yang dibenci.”[3]

Sedangkan dalam pengertian yang hampir serupa, al Asfahani berkata : “Sabar adalah bertahan dalam kesempitan.”[4]

Kedudukan sabar

Banyak sekali ayat, hadits dan perkataan ulama yang menyebutkan tentang keutamaan sabar. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Al Qur’an

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.“ (QS. Ali Imran: 146)

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS. Al Baqarah : 156)

Para ulama menjelaskan bahwa kabar gembira yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dengan diberikan syurga.[5]

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberikan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Al imam Auza’i rahimahullah mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.”[6]

Hadits

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ


“Dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang lebih baik melebihi kesabaran." (HR. Bukhari)

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Kesabaran itu adalah cahaya.” (HR. Ahmad)

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”. (HR. Tirmidzi)

Diantara Maqalah ulama

Berkata sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu :

 

الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، فَإِذَا ذَهَبَ الصَّبْرُ ذَهَبَ الإِيمَانُ

“Sabar bagi keimanan laksana kepala bagi tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”[7]   

            Berkata al imam Syafi’i rahimahullah :

صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا

“Bersabarlah dengan sebaik-baiknya sabar, dan (engkau akan terkejut) betapa dekatnya jalan keluar.”[8]

Pembagian sabar.

Para ulama membagi tingkatan sabar menjadi tiga bagian. Sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan dan sabar dalam mengerjakan ketaatan. Berkata Hujjatul Islam al imam Ghazali rahimahullah :

والصبر على أوجه : صبر على طاعة الله وصبر عن محارمه وصبر على المصيبة

“Sabar terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, (2) sabar dalam menjahui larangan-larangan Allah,  (3) sabar dalam menerima musibah.”[9]

Adapun dalil tentang sabar dalam ta’at dan sabar meninggalkan maksiat diantaranya adalah :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah atasnya.” (QS. Thaha : 132)

            Sedangkan sabar dalam musibah adalah :

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 155)

 Dan secara umum, sabar dalam mentaati Allah dan menjauhi maksiat tingkatannya lebih tinggi dari sabar ketika menghadapi musibah. Berkata al imam Qurthubi rahimahullah :

والصبر على طاعة الله عز وجل وعن محارم الله تعالى ‌أفضل ‌من ‌الصبر ‌على ‌المصائب

“Sabar dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan sabar menahan diri dari yang diharamkan oleh Allah adalah lebih utama dari sabar dalam menghadapi musibah.”[10]

 Hal ini karena sabar dalam musibah sifatnya harus diterima. Seseorang yang sednag menghadapinya tidak punya pilihan kecuali harus bersabar. Jika ia mau bersabar maka akan diberikan pahala, jika tidak sabar ia tidak memperoleh apa-apa bahkan bisa jatuh ke dalam dosa.

Sedangkan sabar dalam ta’at dan menjauhi maksiat sifatnya pilihan, terkhusus jika itu dalam rupa ibadah sunnah. Seseorang bisa memilih bersabar melawan kantuk dan dinginnya malam untuk shalat malam, atau ia meninggalkannya.[11]

Hukum Sabar

Sabar memiliki hukum yang berbeda sesuai dengan keadaan yang menuntut seorang mukmin untuk menyikapinya dengan kesabaran. Ada yang wajib ada pula yang sunnah. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

الصبر واجبا باتفاق المسلمين على أداء الواجبات وترك المحظورات ويدخل في ذلك الصبر على المصائب عن أن يجزع فيها.

“Sabar itu hukumnya wajib dengan kesepakatan kaum muslimin bila untuk menunaikan kewajiban dan meninggalkan kemaksiatan. Demikian juga sabar terhadap musibah-musibah yang menimpa.”[12]

1.     Sabar dalam Ta’at

Sabar dalam keta’atan hukumnya wajib bila itu berkaitan dengan kewajiban agama. Seperti sabar dalam menunaikan shalat lima waktu. Sabar menahan lapar dan dahga saat menunaikan puasa Ramadhan dan semisalnya. Seseorang yang tidak mau bersabar dalam kewajiban, alias meninggalkannya tentu saja hukumnya haram.

Sedangkan sabar dalam ketaatan yang sifatnya ibadah sunnah hukumnya juga sunnah. Seperti sabar dalam istiqamah menjaga shalat malam, dzikir dan puasa sunnah. Jika ia teguh, ia diberi pahala jika ia tak mampu dia bisa meninggalkannya dan tidak berdosa.

2.     Sabar dalam menghadapi maksiat

Demikian juga di bagian yang kedu ini, ada sabar yang wajib ada juga yang sunnah. Yang wajib adalah kesabaran untuk meninggalkan yang diharamkan seperti judi, minum minuman keras, berzina dan yang semisalnya. Sedangkan sabar yang sunnah adalah teguh dan sabar dalam meninggalkan hal yang dimakruhkan.

3.     Sabar dalam musibah

Sedangkan sabar dalam musibah hukumnya adalah wajib, yakni dalam bentuk ia tidak mengeluh dan tidak marah kepada ketentuan Allah. Adapun tangisan dan rasa sedih dan rasa sakit di dalam hati bukanlah ukuran seseorang sabar atau tidak sabar. Seseorang yang menangis dan sedih ketika tertimpa musibah masih termasuk bersabar jika hatinya tetap ridha kepada keputusan Allah dan berserah diri kepadaNya.[13]

 

Bersambung ke bab II : Syukur



[1] Tafsir Thabari (18/578)

[2] Fath al Bari (11/303)

[3] Umdatul Qari ( 25/85)

[4] Tafsir Raghib al Asfahani ( (1/177)

[5] Tafsir Jalalain (1/22).

[6] Tafsir al Qur’an al‘Azhim (6/443)

[7] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 31097

[8] Tafsir Ibnu Katsir (8/418)

[9] Al Mukasyafah al Qulub hal. 19

[10] Hidayah ila Bulugh an Nihayah (1/881)

[11] Jami’ Masail (8/228)

[12] Majmu’ Fatawa (10/39)

[13] Fath Mu’in ‘ala Syarh Muslim (4/202)