Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, 30 June 2025

BAHASA NABI YANG MEMBUMI


Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Di antara bentuk keagungan Rasulullah ﷺ adalah ketika menyampaikan dakwah maka beliau akan  menyesuaikan isi dakwah dengan kondisi, latar belakang, dan tingkat pemahaman orang yang menerimanya. Ucapan beliau tidak hanya fasih dan jelas, tetapi juga penuh hikmah dan sesuai dengan situasi, sehingga pesan dakwah dapat diterima dengan mudah oleh hati dan akal pendengarnya. Ini menunjukkan kesempurnaan akal, keluasan ilmu, serta kebijaksanaan beliau ﷺ dalam menyampaikan risalah.

Al imam Ibnu Atsir rahimahullah berkata :

أن رسول الله ﷺ كان أفصح العرب لسانًا، وأوضحَهم بيانًا، وأعذبَهم نطقًا، وأسدَّهم لفظًا، وأبينَهم لهجةً، وأقومَهم حجةً، وأعرفَهم بمواقع الخطاب، وأهداهم إلى طريق الصواب، تأييدًا إلهيًا، ولفظًا سماويًا، وعناية ربانية، ورعاية روحانية

"Adalah Rasulullah ﷺ adalah orang Arab yang paling fasih lisannya, paling jelas penjelasannya, paling indah ucapannya, paling tepat susunannya, paling jelas logatnya, paling kuat hujjahnya, paling tahu letak-letak kata dalam percakapan, dan paling tepat dalam menunjukkan jalan kebenaran; semua itu adalah dukungan Ilahi, ucapan dari langit, perhatian Rabbani, dan penjagaan ruhani."

Al imam Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata :

كان صلى الله عليه وسلم من ذلك بالمحل الأفضل والموضع الذي لا يجهل، سلاسة طبع، وبراعة منزع، وإيجاز مقطع، ونصاعة لفظ، وجزالة قول، وصحة معان، وقلة تكلف، أُوتي جوامع الكلم، وخُص ببدائع الحكم، وعُلِّم ألسنة العرب، يُخاطب كل أمة بلسانها، ويُحاورها بلغتها، ويُباريها في منزع بلاغتها


"Beliau ﷺ berada pada derajat kefasihan yang paling utama, dengan kelembutan tabiat, keindahan penyampaian, kejelasan lafaz, kekuatan makna, dan tanpa kepura-puraan. Beliau diberi jawami‘ al-kalim, dikhususkan dengan hikmah-hikmah yang menakjubkan, dan diajarkan berbagai dialek Arab. Beliau berbicara dengan setiap kaum dalam bahasa mereka, berdebat dengan logat mereka, dan menandingi mereka dalam gaya retorika mereka."[1]

Bahkan, Nabi ﷺ bukan hanya menyesuaikan dakwah dari sisi isi (konten), tetapi juga dari sisi logat dan dialek (uslub dan lahjah) yang beliau gunakan dalam berdialog. Beliau mampu berbicara dengan gaya bahasa yang sesuai dengan latar kabilah atau adat lisan orang yang diajak bicara, sehingga pesan dakwah lebih mudah dipahami dan lebih dalam pengaruhnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesempurnaan metode komunikasi dan strategi dakwah yang hanya dianugerahkan oleh Allah kepada utusan-Nya yang paling mulia.

Diriwayatkan bahwa sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah Bersama Rasulullah ﷺ menemui suatu suku yang berasal dari daerah yang jauh. Saat itu Nabi berkomunikasi dengan mereka dengan menyesuaikan jenis kosa kata yang digunakan hingga gaya bahasa dan juga dialeg beliau ﷺ.

Hingga hal ini membuat Sayidina  Ali bertanya heran kepada Nabi ﷺ, Ali berkata : "Wahai Rasulullah, kita ini berasal dari satu ayah (satu bangsa), namun kami mendapati engkau berbicara kepada para delegasi Arab dengan bahasa yang banyak darinya tidak kami pahami."


Maka Beliau ﷺ menjawab:

أدبني ربِّي فأحسنَ تأديبي

"Tuhanku telah mendidikku, maka Dia memperindah pendidikanku.”[2]

Maka hal ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang menyampaikan ilmu dan kebaikan pada hari ini. Dakwah yang baik bukan diukur dari seberapa tinggi istilah yang digunakan, tetapi dari seberapa baik pesan itu dapat dipahami dan menyentuh hati orang yang mendengarnya. Kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti sering kali lebih menghidupkan hati daripada ungkapan-ungkapan yang rumit, meskipun secara makna benar.

Karena itu, meneladani Rasulullah ﷺ dalam cara berbicara dan menyampaikan dakwah merupakan bagian dari kesempurnaan mengikuti sunnah beliau. Semoga Allah menghiasi para juru dakwah di masa kini dengan kelembutan dalam lisan, kejernihan dalam niat, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan, sebagaimana Allah telah menganugerahkan semua itu kepada Nabi-Nya yang mulia ﷺ.

Wallahu a'lam.


[1] Subul al Huda wa Ar Rasyad (2/95)

[2] Dinukil oleh al ‘Ajuni dalam Kasyf al Khafa dan disandarkan kepada al ‘Askaridengan sanad lemah, namun maknanya shahih menurut Ibn Atsir dan Ibn Taymiyyah.

Saturday, 23 November 2024

ILMU AKU TIDAK TAHU

 

Oleh : Ahmad Syharin Thoriq

Diantara buruknya adab penanya di zaman ini adalah ketika ia bertanya kepada seorang ahli ilmu seperti memaksa untuk pasti mendapatkan jawabannya. Bahkan ketika jawabannnya itu sekedar telat dari  mendapatkan jawaban, ia seperti tidak terima, tanyanya sekarang ya jangan sampai di jawabnya bulan depan.  Mungkin orang seperti ini mengira bahwa seorang ulama atau mufti itu harus secanggih google, secerdas Chatgpth,  yang selalu sigap menjawab meskipun jawabannya harus ngasal dan sedikit ngawur.

Apa ia tidak tahu bahwa ulama-ulama besar dahulu saja, sudah biasa membuat orang yang jauh-jauh datang untuk meminta fatwa ke rumahnya di buat pulang dengan tangan hampa ? Entah itu karena tidak ketemu, atau memang dengan si ulama tidak dibukakan pintu, atau karena memang diberi jawaban dengan :  “aku tidak tahu.”

Diriwayatkan bahwa Imam Asy Sya’bi rahimahullah berkata :

‌لا ‌أدري ‌نصف ‌العلم

“Ucapan aku tidak tahu adalah separuh ilmu.”[1]

Dalam sebuah riwayat Imam Malik rahimahullah pernah didatangi oleh beberapa orang dari negeri yang sangat jauh untuk menanyakan beberapa fatwa agama. Dan semua jawaban dari beliau adalah : Aku tidak tahu. Sehingga sebagian mereka mengatakan : “Apa yang harus kami sampaikan kepada penduduk negeri kami sedangkan yang kami tanyai adalah orang seperti engkau dan jawabannya : Aku tidak tahu ?”

Imam Malik dengan tegas mengatakan : “ Ya katakan saja, bahwa Malik tidak mengetahui jawabannya.”

Dalam satu kesempatan yang lain beliau Imam Malik ditanya tentang satu permasalahan dan kala itu beliau menjawab ‘saya tidak tahu’. Kemudian si penanya berkata, “ini kan hanya masalah sepele ?”

 Mendengar ucapan ini sang imam marah seraya berkata :

مسألة خفيفة سهلة؟ ‌ليس ‌في ‌العلم ‌شيء ‌خفيف

“Apa katamu ? Tidak ada hal sepele dalam masalah ilmu !”[2]

Diriwayatkan pula dari imam asy Syafi’i rahimahullah bahwasanya beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau terdiam dalam waktu yang sangat lama. Hingga ada yang berkata : “Semoga Allah merahmati anda, sebenarnya anda mau jawab atau tidak ?”

 Imam Syafi'i menjawab:

حتى أدري الفضل في سكوتي أو في الجواب

"Saya harus memastikan dulu apakah lebih baik pertanyaan ini saya diamkan atau saya jawab."[3]

            Al imam Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr as Siddiq pernah ditanya tentang suatu masalah, dan beliau hanya menjawab, "Saya tidak menguasai masalah ini.”

Orang yang bertanya tersebut berkata, "Saya datang kepadamu karena saya tidak tahu tempat bertanya lainnya.” Mendengat itu  al imam Qasim menjawab,

لا تنظر إلى طول لحيتي، وكثرة الناس حولي، والله ما أحسنه لأن يقطع لساني أحب إلي من أن أتكلم بما لا علم لي

 "Engkau jangan tertipu oleh penampilanku atau karena banyaknya orang yang ada di sekitarku.  Demi Allah saya tidak bisa menjawabnya, dan lebih baik lidahku dipotong daripada aku harus memberi jawaban atas masalah yang aku tidak menguasainya !”[4]

 Imam Sya’bi rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah dan beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Maka ada yang berkata kepadanya, "Tidakkah anda merasa malu mengatakan 'tidak tahu', padahal anda dikenal sebagai ahli fiqihnya penduduk Iraq ?

Sang imam hanya menjawab, “Mengapa harus ? sedangkan para malaikat tidak malu ketika mereka mengatakan, 'Tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami.'"[5]

 

Semoga bermanfaat



[1] Musnad ad Darimi (1/276)

[2] Tartib al Madarik (1/184)

[3] Fatawa Ibnu Shalah (1/13)

[4] Adabul Mufti hal. 38

[5] Jami’ Bayanul Ilmi no. 1558

Tuesday, 21 September 2021

HUKUMAN MENINGGALKAN ILMU


 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي المَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ، قَالَ: فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا: فَرَأَى فُرْجَةً فِي الحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا، وَأَمَّا الآخَرُ: فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ، وَأَمَّا الثَّالِثُ: فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا، فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ ‌فَآوَاهُ ‌اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang bermajelis di masjid bersama para shahabat. Lalu datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Rasulullah ﷺ dan yang seorang lagi pergi. Yang menghadap kepada beliau berdiri sejenak di hadapan Rasulullah ﷺ, kemudian satu diantaranya melihat tempat kosong dalam majelis maka ia duduk di tempat itu. Sedangkan yang kedua duduk di belakang mereka, sedangkan yang ketiga sudah berbalik pergi.

Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi ? Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah, maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari)

FAIDAH :

1.     Hadits diatas menjelaskan tentang tiga jenis keadaan manusia ketika menyikapi ilmu agama, dua dinyatakan beruntung dan satu yang celaka.

 

2.     Yang paling beruntung adalah orang yang pertama, ia begitu bersungguh-sungguh dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan terbaik untuk meraih ilmu.

 

Selanjutnya yang juga terhitung masih beruntung adalah orang yang tetap hadir di majelis ilmu. Hanya saja rasa mindernya menghalangi dia untuk maksimal. Ia dimaafkan karena udzur rasa malunya.

 

Dan yang celaka adalah orang ketiga yang berpaling dari mendapatkan ilmu.

3.     Manusia yang paling rugi dan celaka adalah orang yang mendapatkan peluang belajar untuk belajar agama namun ia sia-siakan begitu saja. Allah telah membuatnya dekat dengan seseorang berilmu, bahkan mungkin lembaga agama, namun ia abaikan begitu saja dan memilih sibuk dengan terus-menerus mengejar dunia yang tiada habisnya.

4.     Untuk ilmu ia selalu menghindar. Angannya tertipu dengan alasan yang fikir bisa menjadi udzur : “Nggak papa nggak belajar agama, Allah kan maha pengampun.” Tapi anehnya jika urusannya mengejar dunia, dia selalu siap mati-matian dan tidak mau ketinggalan.

Seandainya dia mau merenung, rsanya  tidak perlu harus menunggu sidang di Akhirat agar dia tahu, bahwa udzur yang dibuatnya itu adalah tipuan setan yang akan mencelakannya.

5.     Orang yang memilih meninggalkan warisan para nabi demi mencari warisan fir’aun dan Qarun. Maka wajar bila Allah berpaling darinya. Lalu kerugian apa yang lebih besar bagi seorang hamba dari pada berpalingnya Allah dari dirinya ?

 

 

Wallahu a'lam.

 

Thursday, 19 September 2019

SIROH DAN SEJARAH

~ Siroh Nabawiyah adalah panduan praktis pengamalan Qur'an dan al Hadits, yang bukan saja mengantarkan individu untuk selamat dunia hingga akhirat, namun untuk membangun peradaban umat yang kuat dan beradab.

~ Sejarah Islam di Indonesia adalah sejarah kepahlawanan, kejayaan, dan kegemilangan peradaban, namun dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sudah saatnya kini kita mengenal sejarah bangsa dengan baik.

Suatu umat yang tidak mengetahui kebesaran masa lalunya, akan sulit untuk merajut kebesaran masa depannya.

~ Keruntuhan peradaban Islam di Barat, seharusnya segera digantikan oleh kebangkitan Islam dari Timur, indonesia. Sebagaimana ungkapan para ahli sejarah : "Faqadna Andalusia, wajadna Indonesia (kita telah kehilangan Andalusia, tapi kita mendapatkan ganti Indonesia)".

Namun proyek kebangkitan tersendat dan menjadi berat, karena para penjajah merusak salah satu pilar utama peradaban kita, yaitu Sejarah.

Maka, dalam rangka ambil bagian dalam menegakkan kembali pilar-pilar peradaban umat, Insyaallah segera di buka di Subulana Kuliah Siroh dan sejarah Islam Indonesia oleh Komunitas Cinta Siroh.

#pilarperadabanumat

MEREKA YANG SEBENARNYA

Pemecah belah umat yang sebenarnya adalah mereka yang bisa bersikap sangat lembut kepada orang lain, tapi dengan saudaranya sendiri galaknya bukan main.

Penghancur bangsa yang sebenarnya adalah mereka yang mudah menuduh harakah lain dengan tudingan radikal, namun gemar merangkul dan ramah pada kaum liberal dengan dalih kebebasan berfikir.

Pengkhianat negara yang sebenarnya adalah mereka yang membenci syariat agama dengan alasan bisa mengancam keutuhan bangsa. Padahal yang terancam adalah kepentingan asing dan keserakahan mereka.

Perusak agama yang sebenarnya adalah mereka yang memusuhi dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar, lalu membuat proyek dakwah tipu-tipu : nyamar ma'ruf nyambi munkar.

Semoga kita bukan termasuk dari mereka yang memecah belah umat, menghancurkan bangsa, mengkhianati negara dan merusak agama.

═══ ❁✿❁ ═══

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Yaitu orang-orang yang sesat urusannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat amal sebaik-baiknya." (QS. 104)

PERANG DALAM ISLAM

Ketika kita mengkisahkan perang dalam sejarah Islam, kita bukan sedang mengajarkan peperangan, apalagi semangat kebencian kepada orang kafir. Itu penyimpulan berfikir yang fatal kelirunya.

Buku sejarah bangsa kita juga menceritakan perang dan kisah kepahlawanan. Bagaimana para pejuang dahulu dengan gigih mengusir para penjajah. Dan tentu itu bukan dalam rangka mengajari anak-anak didik kita benci kepada  Jepang dan Belanda.

Tapi supaya generasi penerus mengenal sejarah kepahlawanan dan mengambil spirit dari mereka untuk membangun bangsa. Dan siap mempertahankan negaranya dari rongrongan pengkhianat dan pihak asing.

Tidak menyukai perang itu boleh dan sangat wajar. Bahkan Nabi dan para shahabat pun membenci perang. Meski telah di tindas 13 tahun lamanya.

Tapi begitulah, dititik tertentu pertarungan antara yang haq dan yang batil tidak bisa diselesaikan kecuali dengan mengangkat senjata.

Sehingga Allah perlu mengancam orang-orang beriman dengan berfirman : "Diwajibkan atas kalian berperang (dikala diperangi), meskipun kalian membencinya." (QS. Al Baqarah :216)

Perang dalam Islam adalah perang yang paling humanis, karena tujuannya bukan untuk menumpahkan darah atau meluaskan wilayah, tapi untuk mempertahankan eksistensi iman dan kebenaran.

Karenanya peperangan di masa Rasulullah sangat minim korban. Dimana dari sekian kali  meletusnya perang besar, korbannya hanya berkisar 300 an.

Aturan perang dalam Islam melarang mujahidin merusak bangunan dan tempat ibadah, tidak boleh menjarah, menebang pepohonan, mengganggu pemuka agama lain, membunuh wanita dan anak-anak, menyiksa tawanan, memutilasi korban dan seabrek aturan ketat lainnya.

Jika jejak sejarah perjuangan dan peperangan suci itu hendak dihapuskan, apakah kita akan membiarkan anak-anak kita mengenal perang dari Amerika, Rusia, Isis, atau versi film war-nya Hollywood dan jogednya Bollywood ?

Atau jangan-jangan sebenarnya bukan sejarah perang dan perjuangan yang ingin dihapuskan, tapi yang hendak dihilangkan adalah semangat kepahlawanan dan sejarah Islam ?

Karena di zaman seperti sekarang, dimana arus informasi begitu deras, menutup informasi yang seharusnya disampaikan dengan benar, hanya akan menjadikan khalayak mendapatkan informasi tersebut dengan cara yang salah.

Wallahu musta'an.

Monday, 25 March 2019

SYARIAT YANG SEMPURNA


Isa diutus dengan membawa tuntunan yang indah tentang kesantunan dan kasih sayang  namun akhlak yang diajarkan oleh Muhammad lebih indah dan lebih agung.

Musa diutus dengan membawa ajaran yang berat penuh perjuangan dan pengorbanan. Namun syariat Muhammad lebih ketat dengan adanya kewajiban hudud dan jihad.

Karenanya dikatakan : "Isa 'alaihissalam diutus dengan Jamal (keindahan) dan Musa 'alaihissalam diutus dengan Jalal (keperkasaan). Sedangkan Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam diutus dengan membawa Kamal (kesempurnaan)."

Umat ini dididik oleh sang Nabi agar memiliki hati selembut merpati, namun memiliki taring dan cakar seekor singa.

اللهم صل وسلم عيله وعلى أله وصحبه أجمعين.

KETIKA AL QUR'AN DITELANTARKAN

Orang beriman memiliki timbangan untuk mengukur kebenaran dan kebatilan, yakni kitab suci al Qur'an.

Karenanya bahkan mereka bisa mengambil manfaat dan belajar tentang kebaikan dari seekor hewan sekalipun.

Seorang mukmin belajar dari keledai tentang arti kesabaran, bukan kedunguan.

Belajar dari rajawali tentang keperkasaan diangkasa tinggi, bukan menjadi pemakan bangkai.

Belajar dari anjing tentang makna kesetiaan, tapi tidak menggonggong.

Maka ketika al Qur'an sebagai panduan telah banyak ditelantarkan. Lahirlah bahkan dari madrasah dan sekolah kedunguan keledai, kerakusan rajawali dan kepandaian melolong seperti anjing.

ANTARA SOSMED DAN MASA DEPAN

Dahulu orang bijak memberi pengingat dengan seuntai nasehat :

أخبرني ما قرأت أخبرك من أنت

"Kabarkan kepadaku apa bacaanmu, aku akan kabarkan siapa sebenarnya dirimu."

Hampir serupa, hari ini kita bisa mengetahui latar belakang, kepribadian, kecendrungan sampai alur berfikir seseorang lewat aktivitasnya di sosial medianya.

Bisa jadi nanti akan mulai menjadi trend bagi perusahaan yang akan menerima karyawan, sekolah yang merekrut peserta didik, atau bahkan orang tua yang mencari mantu, menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan isi tulisan di akun sosial media seseorang.

Karena hampir semuanya terekam lengkap disana. Maka karier dan masa depan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh apa yang ia posting diberanda sosial medianya.

Jejak digital akan sangat bisa membantu datangnya kebaikan dunia dan akhirat, atau sebaliknya, menjadi batu sandungan untuk kesuksesan, atau tertimpanya seseorang berbagai keburukan. Maka berhati-hatilah ...

DO'A MEMINTA PEMIMPIN YANG AMANAH

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذٌبِكَ مِنْ إمَارَةِ الصبْيَانِ وَالسُّفَهَاءِ

“Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari pemimpin yang kekanak-kanakan lagi dungu.”

اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

"Ya Allah, jangan engkau serahkan kepemimpinan kami kepada orang yang tidak mengasihi kami."

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا

“Ya Allah jangan engkau hukum kami dengan sebab dosa-dosa kami dengan adanya pemimpin yang tidak takut kepadaMu dan tidak sayang kepada kami.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

“Ya Allah, perbaiki keadaan para pemimpin- pemimpin kami, berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik  bagi Islam dan kaum muslimin. "

اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

"Ya Allah, jangan engkau jadikan bagi pemimpin kami para pendamping yang buruk dan pembisik yang merusak. Tapi dekatkanlah kepadanya orang-orang baik dan para pemberi nasihat, wahai Tuhan semesta alam."

═══ ❁✿❁ ═══

Waktu semakin dekat, mari perbanyak memohon kepada Allah terutama dikala sedang bersujud.

Tuesday, 19 March 2019

APA ITU PENYAKIT 'AIN ?

'Ain adalah penyakit yang sangat berbahaya, namun kebanyakan orang meremehkannya.
Penyakit ini datang karena efek pandangan mata orang yang hasad (dengki) atau sebaliknya, karena kegaguman berlebihan kepada sesuatu yang dilihatnya.

Maka berhati-hatilah dari orang yang terlalu benci atau sebaliknya terlalu mengagumi, keduanya adalah penyebab datangnya 'ain.

Kita sering mendengar atau bahkan menyaksikan seseorang yang jadi pusat perhatian, publik figur, atau artis yang sedang menanjak karirnya, tiba-tiba meninggal dunia. Penyakit ‘ain lah diantara penyebabnya ! 
Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan : "Ain bisa menggelincirkan orang yang sedang berada diketinggian."

'Ain juga bisa terjadi meski tidak melalui tatapan langsung, semisal lewat foto yang kita pajang. Terlebih bayi dan anak-anak sangat rentan terkena penyakit 'ain.

Dan diantara kiat menghindari datangnya penyakit yang sangat berbahaya ini adalah, saat memajang foto di sosial media sertakan dzikir atau nama Allah.

Yang terbaik adalah :

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Atau cukup :

مَا شَاءَ اللَّهُ

Jika tidak, yang penting tercantum bersama foto asma Allah, semisal : Bismillah, atau barakallah, atau semoga Allah meridhai dan lainnya."

Wallahu a'lam.

Wednesday, 14 February 2018

ISTRI SETENANG MALAM

Allah berfirman tentang para istri : "Agar kalian merasa tenang kepadanya." (QS. Ar Rum:21)

Dan Dia berkata tentang malam hari : "Agar kalian tenang padanya." (QS. Yunus : 67)

Hanya waktu malam yang mampu meredam segala hiruk-pikuk dan kebisingan siang hari.
Malam adalah waktu istirahat yang tak mungkin tergantikan, bahkan oleh berlipat waktu siang hari.
Begitulah sifat para istri seharusnya, tenang, setenang malam.

Ia mampu meredam goncangan ujian yang dihadapi oleh suaminya. Menjadi tempat yang nyaman untuk dia merebahkan jiwanya yang lelah oleh masalah.

Sungguh, seorang lelaki yang paling perkasa sekalipun diluar sana. Yang jika dia berbicara, orang satu negeri terpekur mendengarnya, yang paling dibutuhkan hanyalah sentuhan lembut dari istrinya.

Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam ketika turun dari gua Hira dalam kondisi pucat pasi karena takut, hanya butuh selimut dan sentuhan lembut Khadijah untuk kembali menenangkan jiwanya.
Memiliki istri setenang malam, adalah nikmat yang tidak akan pernah tergantikan.

RIBUT

Ribut antar sahabat atau kerabat tidak selalu artinya buruk. Karena ternyata diantara efek bila telah saling mencintai, akan mengurangi ragam basa-basi.

 Kakak beradik lebih sering ribut antar mereka daripada dengan anak tetangga, tanya kenapa ? Jawabnya karena ada cinta diantara mereka.

Yang saling mencintai memiliki keyakinan, ia tidak akan ditinggalkan hanya karena urusan keributan.
Dulu antar sahabat Nabipun, kalau membahas sesuatu antar mereka suka ribut.


 Bacalah dialog-dialog antar manusia-manusia mulia itu, khususnya saat membahas perkara umat yang sangat penting. Tegang, bising dan tanpa tedeng aling-aling.

Yang saya berfikir, jika cara ribut sesama mereka dipakai hari ini, bakal membuat kita nggak akan teguran lagi sampai mati.

Bila telah ada cinta, keributan bukanlah hal yang bisa mengancam hubungan.
Karena cinta punya energi yang sangat cukup bahkan berlebih, sekedar hanya untuk memaklumi dan memaafkan.

Friday, 8 December 2017

SEMUT


Siang yang melelahkan. Seharian menyelesaikan pekerjaan dan berbagai aktivitas yang serasa tak ada habis-habisnya. Kurebahkan tubuh di lantai depan televisi . Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitku bersentuhan dengan sejuknya lantai.

Tapi baru saja beberapa menit berbaring, kala mataku sudah mulai terpejam, tiba-tiba aku merasakan sebuah sengatan kecil dipunggung. Sontak aku membalikan badan. Dan ternyata benar sesuai dugaakanku, seekor semut pelakunya. Semut kecil berwarna hitam tanpak merayap dilantai seperti tidak merasa telah melakukan kesalahan yang menurutku itu sebuah dosa besar karena mengganggu istirahatku.

Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik 'gepeng' di lantai. Namun sebelum tanganku melayang, ia justru sudah mengacung-acungkan kepalan seperti menantangku bertinju. Kuturunkan kembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut', kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamit seolah mengatakan sesuatu kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang diucapkannya, tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya.

"He makhluk besar, anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat saya sedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah ..." Rupanya ia begitu marah karena aku bukan saja menghambat perjalanannya, tapi punggungku telah menindihnya sehingga ia terpaksa harus menggigitku.

Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya. Susah payah ia membawa sesuatu yang ternyata itu sisa-sisa makanan bekas sarapanku pagi tadi yang belum sempat kubersihkan. Beban yang dibawa semut itu memang kelewat besar bila dilihat dari ukuran tubuhnya. Sehingga membuatnya kadang oleng ke kanan kadang ke kiri, sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya mungkin untuk sekedar mengumpulkan tenaganya atau memperbaiki posisi beban yang dibawanya. Iba juga hati ini dibuatnya.

Kantuk yang tadi menyerang tiba-tiba hilang berganti dengan penasan. Kuikuti terus kemana semut mungil itu pergi. Rasanya aku ngin tahu di pojok mana ia tinggal dari bagian rumahku ini. Semut itu berhenti di sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. Di depan sebuah lubang kecil yang menganga, ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedang memanggil–manggil semut-semut di dalam lubang itu. Satu, dua, tiga .... empat dan .... lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawa makanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang dibawa semut pertama itu. Dan, eh ... satu lagi semut yang besarnya sama dengan pembawa roti keluar dari lubang.

Hmmm ... menurutku, si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari semut-semut yang berada di dalam lubang tersebut. Kelima semut-semut yang lebih kecil adalah anak - anaknya sementara satu semut lagi adalah istri si pembawa roti, itu terlihat dari perutnya yang agak buncit. "Mungkin ia sedang mengandung anak ke enamnya" pikirku. Semut suami yang sabar, ikhlas berjuang, gigih mencari nafkah dan penuh kasih sayang. Semut istri tawadhu' dan qanaah menerima apa adanya dengan penuh senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami, juga ibu yang selalu memberikan pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya. Dan, anak-anak semut itu, subhanallah ... mereka begitu pandai berterima kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Sungguh suami yang dibanggakan, sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang membuat ayah ibunya bangga.

Astaghfirullah ..., tiba-tiba tubuhku menggigil, lemas seperti tiada daya. Tidak terasa air mataku berlinang. Menetes membasahi lantai yang tadi menjadi jalan yang dilalui semut perkasa yang telah memberikan pelajaran yang tidak pernah akan aku lupakan. Teringat dipelupuk mataku ribuan wajah semut-semut yang pernah aku hajar hingga mati berkalang lantai ketika mereka mencuri makananku. Padahal, mereka hanya mengambil sisa-sisa makanan yang sudah tidak aku butuhkan. Padahal yang mereka ambil adalah sesuatu yang sangat sedikit yang boleh jadi itu adalah hak mereka atas rizki yang aku terima.

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kemudian manusia, binatang atau burung memakan tanaman itu kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR Muslim)

Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi, seakan terbayang tangisan anak–anak dan istri semut-semut itu tengah menanti ayah dan suami mereka yang tidak kunjung kembali, namun yang mereka dapatkan ternyata bukan makanan melainkan justru seonggok jenazah.
Ya, Allah... keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang perjuangan hidup, tentang kesabaran, tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika terusik, tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. Mereka ajari aku caranya mensyukuri nikmat Tuhannya, tentang bagaimana perlunya ikhlas, sabar, tawadhu' dan qanaah dalam hidup.

Hari-hari selanjutnya, ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagian manapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan menghalangi langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki atau tidak. Ingin rasanya aku hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat tinggal semut-semut itu. Tapi kupikir, lebih baik aku memberinya jalan atau bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri rizki tersebut, karena itu jauh lebih baik bagi mereka.

Sebagaimana kekasihku Shallallahu'alaihi wassalam telah bersabda : “Tidaklah ada rizki yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan dari hasil usaha tangannya.” (HR. Bukhari)

Wallahu a'lam