Tuesday 11 July 2023

NASEHAT EMAS YANG DIKIRA HADITS

Mungkin kita pernah mendengar bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali ungkapan atau nasehat indah yang berbunyi seperti berikut ini :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ.، ومن أرادهما معاً فعليه بالعلم

“Barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah ia cari dengan  ilmu, barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat hendaklah ia cari dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dari  keduanya hendaklah ia cari dengan ilmu.”

Sangking sangat populernya nasehat di atas, sampai banyak yang menisbahkan itu sebagai hadits yang diucapkan oleh Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Bahkan disebuah artikel ada yang mencantumkan riwayat Bukhari dan Muslim. Subahanallah, padahal jangankan riwayat dalam kitab shahih, bahkan tak ada satupun dari kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan yang mencantumkannya.

 Lalu, jika bukan hadits, siapa pemilik ucapan tersebut ?

 Jika kita telisik di beberapa sumber kitab klasik, ada yang menisbahkan nasehat ini kepada sayidina Ali bin Abi Thalib, ada juga yang menyatakan ini perkataan al imam Sufyan ats Tsauri dan yang paling populer adalah nisbah kepada al imam Syafi’i rahimahullah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu

Dalam Arsip Multaqa Ahli Hadits di jilid ke 50 halaman 466 dikatakan bahwa ini adalah ucapan sayidina Ali bin Abi Thalib.

Al imam Sufyan ats Tsauri rahimahullah

Beberapa kitab menisbahkan ucapan itu kepada ulama besar generasi tabi’in ini. Namun redaksinya sedikit berbeda, yakni :

من ‌أراد ‌الدنيا والآخرة فعليه بطلب العلم

“Siapa yang menginginkan dunia dan akhirat maka hendaknya ia menuntut ilmu (agama).”

Nasehat ini dicantumkan oleh al imam Ibn Abdil Barr dalam kitabnya Bahjatul Majalis halaman 273, juga oleh Abul Ma’ali al Baghdadi dalam kitabnya at Tadzkirah al Hamudiyah jilid 1 halaman 114, dan al imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya al Miftah darr as Sa’adah jilid 1 halaman 471.

Al imam Syafi’i rahimahullah

Kebanyakan para ulama menyatakan bahwa empunya nasehat emas di atas adalah al imam asy Syafi’i rahimahullah ta’ala. Ini dinyatakan oleh al imam Baihaqi rahimahullah dalam kitabnya Manaqib asy Syafi’i pada jilid ke-2 halaman 239.

Juga al imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Syarh al Muhadzdzab pada jilid pertama halaman ke-20, juga beliau cantumkan dalam kitabnya yang berjudul Tahdzib al Asma wa al Lughat jilid 1 halaman 54.

Lalu al imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Tabaqat Asy Syafi’iyyin halaman 33. Lalu imam Syarbini rahimahullah dalam kitabnya Sirajul Munir jilid 4 di halaman 231.  Dan masih banyak ulama lainnya yang menyatakan ini adalah ucapan al imam Syafi’i.

Khatimah

Nasehat di atas secara esensi benar dan isinya mengandung kebaikan. Namun,  tidak semua perkataan yang kandungan maknanya baik dan benar, bisa serta merta dinyatakan sebagai hadits Nabi. Karena, menisbatkan sesuatu kepada beliau memiliki konsekuensi yang berat dalam agama. Maka hendaknya kita harus berhati-hati dalam hal ini.

Bila membuat hoax atas diri seorang pejabat negara, semisal menisbahkan sebuah perkataan kepada presiden padahal tidak benar, itu saja bisa berakibat fatal, lalu bagaimana jika itu dilakukan kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam ?

Disebutkan dalam hadits :

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (Mutafaqun ‘Alaih)

Dalam hadits lain :

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ  بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan untuknya rumah di dalam neraka Jahannam.” (HR. Thabrani)

Wallahu a’lam



 

 

No comments:

Post a Comment