Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Diantara ciri yang melekat kuat dari pribadi para imam kaum muslimin adalah adanya keluhuran budi pekerti dan akhlaq yang sangat tinggi, termasuk yang bisa kita jumpai dari diri imam Ibnu Sirin rahimahullah. Mari kita simak beberapa diantara keteladanan indah beliau dalam perkara ini.
Tidak mau menyakiti seorang muslim
Diantara wujud kemuliaan akhlaq sang imam adalah diketahui bahwa beliau memiliki beberapa rumah kontrakan, namun anehnya rumah tersebut hanya disewakan kepada orang-orang kafir dzimmi, tidak untuk orang Islam. Dan ketika hal tersebut ditanyakan alasannya beliau menjelaskan :
إذا جاء رأسُ الشهر رُعْتُ الساكن، وأكرهُ أن أروِّع مسلمًا
“Jika telah masuk awal bulan, orang yang mengontrak rumah biasanya akan mulai dihinggapi rasa gelisah (memikirkan biaya sewa). Sedangkan aku tidak mau menimpakan rasa cemas kepada seorang muslim.”[1]
Subhanallah, beliau tidak mau menimpakan rasa cemas kepada seorang muslim padahal itu dalam bentuk perkara halal, lalu bagaimana lagi jika dalam perkara yang dilarang atau diharamkan ? Lalu bandingkan dengan kita yang acap kali menimpakan rasa cemas, dan takut untuk hal-hal yang sebenarnya kita diperintahkan berbuat baik dan lembut kepada sesama muslim. Dan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam telah bersabda dalam sebuah hadits mengingatkan kita tentang perkara ini :
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat cemas (ketakutan) muslim yang lain.” (HR. Ahmad)
Sangat memuliakan orang tuanya
Al imam Ibnu Sirin rahimahullah tidak pernah sekalipun meninggikan pembicaraan di hadapan orang tuanya. Diriwayatkan jika tadinya ia berbicara dengan bahasa yang tegas atau keras, suaranya akan mendadak mengecil jika tiba-tiba ada ibunya. Sampai ada yang keheranan dan menanyakan, kenapa sang imam suaranya berubah menjadi sangat pelan dan lembut, dijawab oleh orang yang mengenalnya :
كذا يكون عند أمّه
“Begitulah ia jika sudah di depan ibunya.”[2]
Putrinya Hafsah binti Sirin menceritakan :
وما رأيتُه رافعًا صوته عليها قطّ وكان إذا كلَّمها كأنه مريض
“Aku tidak pernah melihat ayahku meski sekali meninggikan nada suaranya di depan ibunya. Jika ia berbicara dengan ibunya, seolah-olah ia seperti orang yang sedang sakit.”[3]
Pernah ada orang yang melihatnya sedang berbicara dengan ibunya, dan orang itu kelihatannya tidak mengetahui bahwa itu adalah imam Ibnu Sirin, ia berkata : “Orang ini kelihatannya sedang ditimpa penyakit yang parah.”[4]
Menolak diistimewakan
Al imam Ibnu Sirin pernah dijebloskan ke dalam penjara karena sebuah masalah. Sang penjaga penjara karena mengenal sang imam dengan baik dan juga mengetahui bahwa beliau tidaklah bersalah hendak memberikan hak khusus kepadanya. Yakni di malam hari dia mempersilahkan imam Ibnu Sirin untuk pulang ke rumahnnya dan nanti kembali lagi ke penjara di pagi harinya.
Namun justru beliau menolak dengan berkata :
لا والله لا أتعرَّض للجناية على الشرع والسلطان وعليك
"Tidak, demi Allah, aku tidak akan mau menjerumuskan diriku dan dirimu dengan melanggar hukum syariat dan juga aturan negara.”[5]
Semoga bermanfaat
No comments:
Post a Comment