Sunday, 19 January 2025

KEBERANIAN SANG SULTANUL ULAMA

 

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Jika kita membaca biografi sosok imam yang bergelar rajanya ulamanya ini, maka kita akan mendapati bahwa diantara hal yang paling menonjol pada diri beliau adalah keberaniannya yang luar biasa dalam menyampaikan dan membela kebenaran. Imam Izz Abdussalam seperti tidak punya urat takut sama sekali, meski yang ia hadapi adalah pihak yang sangat kejam atau penguasa yang paling berpengaruh. Nah, di tulisan kali ini kita akan menuturkan kembali sebagian kisah tersebut.

 Diriwayatkan bahwa ketika sultan Mesir hendak bersiap-siap untuk menghadapi invasi tentara Tartar, ia berkonsultasi dengan al imam Izz Abdussalam kaitannya dengan pesiapan kampanye tersebut. Sultan meminta persetujuan dari alim ulama untuk mengambil pajak dari orang-orang kaya dan para pedagang karena harta negara tidak cukup untuk membiayai perang tersebut.

Sang ulama dengan tegas mengatakan :

إذا أحضرت ما عندك وعند حريمك وأحضر الأمراء ما عندهم من الحلي الحرام وضربته سكة ونقدا وفرقته في الجيش ولم يقم بكفايتهم ذلك الوقت اطلب القرض وأما قبل ذلك فلا

“Jika engkau telah membawa apa yang ada padamu, juga apa yang ada pada istrimu, dan para amir membawa apa yang ada pada mereka berupa perhiasan haram itu, lalu engkau mencetaknya menjadi mata uang dan membagikannya kepada pasukan, namun itu masih belum mencukupi kebutuhan mereka saat itu, maka pinjamlah. Tapi sebelum itu, jangan!'

Mendengar ini terpaksa Sultan dan seluruh menteri dan pejabat lainnya bersegera mengumpulkan harta-harta mereka dan membawa semua yang mereka miliki ke hadapan sang imam. Tidak ada satupun dari para pejabat itu berani sedikitpun untuk menentang fatwanya karena beliau memiliki kedudukan yang agung di hadapan mereka dan wibawa yang sangat tinggi.

            Konon ketika hari kewafatan sang imam dan jenazah beliau diusung ke pemakaman, sultan yang sempat melihat pemandangan adanya lautan manusia yang mengiringi jenazah tersebut berkata :

اليوم استقر أمري في الملك لأن هذا الشيخ لو كان يقول للناس اخرجوا عليه لانتزع الملك مني

'Hari ini kekuasaanku di kerajaan ini benar-benar kokoh, karena seandainya Syekh ini berkata kepada orang-orang, “Keluar dan melawan dia’ pasti mereka akan merebut kerajaan dariku.”

Ref : Thabaqat Asy Syafi’iyyah li Subki (8/216)

 

BAGIAN IV : IBNU HAJAR ULAMA ASY’ARI

 Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Al imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani (773-852 H) adalah ulama besar dalam ilmu bidang ilmu hadits, dan fiqih Mazhab Syafi’i. Karya monumentalnya, Fath al-Bari, menjadi rujukan utama syarah Sahih al-Bukhari. Ia dijuluki Amirul Mukminin fil Hadits karena keahliannya dalam kritik sanad dan matan hadits.

Berikut ini adalah di antara hal yang membuktikan bahwa beliau beraqidah ahlussunnah wal Jama’ah dengan madzhab Asy’ariyah.

Bukti pertama :  Tafwidh dan takwilnya  

Tafwidh dan juga takwil adalah dua metode yang digunakan oleh kalangan ulama Asy’ariyah dan menjelaskan sebagian sifat-sifat Allah. Dan imam Ibnu Hajar al Asqlani jika kita menelaah karya-karyanya, akan kita dapati beliau melakukan takwil, berikut diantaranya :

  1. Ibnu Hajar mensucikan Allah dari tangan yang merupakan anggota tubuh.

 أطولهم يداً أي أسمحهن، ووقع ذكر اليد في القرآن والحديث مضافاً إلى الله تعالى، واتفق أهل السنة والجماعة على أنه ليس المراد باليد الجارحة التي هي من صفات المحدثات. وأثبتوا ما جاء من ذلك وآمنوا به؛ فمنهم من وقف ولم يتأول، ومنهم من حمل كل لفظ منها على المعنى الذي ظهر له، وهكذا عملوا في جميع ما جاء من أمثال ذلك


"Ucapannya (orang yang paling panjang tangannya), maksudnya adalah orang yang paling dermawan. Dan kata 'tangan' disebutkan dalam al Qur'an dan hadits yang disandarkan kepada Allah Ta'ala, dan Ahlussunnah wal Jama'ah telah sepakat bahwa maksud 'tangan' bukanlah anggota tubuh yang merupakan sifat makhluk. Mereka menetapkan apa yang disebutkan dalam hal itu dan beriman kepadanya; sebagian dari mereka berhenti tanpa menakwil, dan sebagian lainnya memaknai setiap lafadz dengan makna yang tampak baginya. Begitulah cara mereka memperlakukan semua sifat semacam itu."[1]

2.     Penakwilan sifat malu (al-hayaa’)

Beliau saat menjelaskan sifat malu bagi Allah berkata :

“Ucapannya: maka Allah malu darinya, maksudnya adalah Allah merahmatinya dan tidak menghukumnya.”[2]

3.     Menakwil sifat tangan sebagai kekuasaan

Beliau tentang sifat Yad dengan mengatakan : “Maksud dari tangan di sini adalah kekuasaan.”[3]

4.     Menakwilkan sifat tertawa

 Beliau rahimahullah berkata : “Ucapan “Allah tertawa kepada dua orang”, al Khathabi berkata: Tertawa yang terjadi pada manusia karena perasaan gembira atau senang tidaklah pantas disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, ini adalah perumpamaan untuk perbuatan yang memunculkan kekaguman di mata manusia sehingga membuat mereka tertawa.

Maknanya adalah pemberitahuan tentang keridhaan Allah terhadap perbuatan salah satu dari keduanya dan penerimaan-Nya terhadap yang lainnya serta ganjaran mereka dengan surga meskipun kondisi mereka berbeda. Ia berkata: Imam al Bukhari menakwil sifat tertawa di tempat lain dengan makna rahmat, dan ini dekat. Namun, menakwilnya sebagai keridhaan lebih dekat, karena tertawa menunjukkan keridhaan dan penerimaan.”[4]

5.     Takwilnya terhadap sifat tinggi dan dekat

Beliau berkata :

قوله: (فهو عنده فوق العرش)؛ قيل : معناه دون العرش. ويحتمل أن يكون المراد بقوله: "فهو عنده" أي ذكره أو علمه، فلا تكون العندية مكانية بل هي إشارة إلى كمال كونه مخفياً عن الخلق مرفوعاً عن حيز إدراكهم…".

“Ucapannya: (maka dia di sisi-Nya di atas Arsy), dikatakan bahwa maksudnya adalah di bawah Arsy. Bisa juga maksudnya adalah: (di sisi-Nya), yaitu di dalam ingatan-Nya atau ilmu-Nya. Maka, kedekatan di sini bukanlah kedekatan tempat, melainkan menunjuk kepada kesempurnaan tersembunyinya dari makhluk, terangkat dari batasan indera mereka.”[5]

Bukti kedua : Kesaksian ulama atasnya

Al imam adz Dzahabi rahimahullah berkata tentang beliau :

إن مذهبه في الصفات السمعية السكوت وإمرارها كما جاءت ،وربما تأول قليلاً في شرح مسلم

“Madzhab beliau dalam masalah Shifat Sam’iyyah adalah Sukut (diam akan maknanya) dan membiarkannya sebagaimana datangnya dan kadang beliau menta’wil seperti dalam kitabnya Syarh Muslim.”[6]

Al Imam As Sakhawi rahimahullah ketika mengomentari perkataan imam adz  Dzahabi di atas berkata :

كذا قال، والتأويل كثير في كلامه

“Dia (Adz Dzahabi) berkata begitu, padahal pentakwilan yang dilakukan oleh beliau ada banyak.”[7]

Bukti ketiga : beliau menukil ulama-ulama Asy’ariyah dalam kitabnya

Jika al imam Ibnu Hajar termasuk yang berpendapat bahwa Asy’ariyah adalah bukan Ahlussunnah, sudah pasti beliau tidak akan mungkin menukil dari para ulama-ulama yang aqidahnya bermadzhab Asy’ari seperti imam al Ghazali, imam Baqilani, Asy Syairazi dan lainnya.

Namun fakta justru menunjukkan bahwa dalam berbagai karyanya beliau menjadikan imam-imam dari kalangan Asy’ariyah sebagai rujukan untuk menjelaskan berbagai hal baik kaitannya dengan hadits, fiqih, Sejarah atau nasehat.

Seperti ucapan beliau :

فقال ‌الأشعري: كلام الله القائم بذاته يسمع عند تلاوة كل تال وقراءة كل قارئ، وقال ‌الباقلاني…

“Kalangan Asy’ariyah berkata: "Kalam Allah yang berdiri pada Zat-Nya dapat didengar saat setiap orang yang membaca melafalkannya dan setiap qari (pembaca) membacanya." Sedangkan Al-Baqillani berkata…”[8]

Bukti keempat : Banyak menjelaskan sesuatu dengan pendapat Asy’ariyah

Seperti contoh ucapan beliau :

وقد اشتهر الخلاف في ذلك بين ‌الأشعرية والحنفية، وتمسك الأشاعرة بمثل هذا الحديث

“Dan kalangan Asy’ariyah berpegang teguh dengan hadits semacam ini…”[9]

            Memang benar bahwa nukilan dalam kitab ulama itu tidak semua dijadikan rujukan atau pegangan oleh penulisnya, ada yang sekedar mengungkap data atau untuk mengoreksi kesalahannya. Tetapi jika kita membaca karya imam Ibnu Hajar saat menukil pendapat Asy’ariyah kita akan paham bahwa beliau mengemukakannya bukan sekedar untuk menjadikannya sebagai data pembanding atau untuk mengoreksi kesalahannya, tapi beliau menghadirkannya sebagai penjelas atas sebuah bahasan. Seperti ucapan beliau lainnya :

وكلام الله قديم وقد ثبت أنه فيه الخالق الرزاق فانفصل بعض ‌الأشعرية بأن إطلاق ذلك إنما هو بطريق المجاز وليس المراد بعدم التسمية

“Dan kalam Allah adalah qadim, dan telah ditegaskan bahwa di dalamnya terdapat nama Al-Khaliq (Sang Pencipta) dan Ar-Razzaq (Sang Pemberi Rezeki). Maka, sebagian golongan Asy’ariyah menjelaskan bahwa penyebutan itu hanyalah dengan cara majaz (kiasan) dan bukan dimaksudkan untuk menafikan penamaan tersebut.”[10]

Dan perkataan beliau :

والذي استقر عليه قول ‌الأشعرية أن القرآن كلام الله غير مخلوق

“Dan pendapat yang telah menjadi ketetapan menurut Asy’ariyah adalah bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan…”[11]

Bukti keempat: pengakuan pihak “lawan”.

Syaikh bin Baz ditanya apakah benar imam Nawawi dan Ibnu Hajar al Asqalani bukan termasuk ulama ahlussunnah wal Jama’ah ? Beliau menjawab :

لهم أشياء غلطوا فيها في الصِّفات: ابن حجر، والنووي، وجماعة آخرين، ليسوا فيها من أهل السنة، وهم من أهل السنة فيما سلموا فيه ولم يُحرِّفوه، هم وأمثالهم ممن غلط.

"Mereka memiliki beberapa hal yang salah dalam masalah sifat-sifat (Allah): seperti Ibnu Hajar, An Nawawi, dan kelompok lainnya. Mereka dalam perkara tersebut bukan termasuk Ahlussunnah. Namun, mereka termasuk Ahlussunnah dalam perkara yang selamat dari penyimpangan dan tidak mereka ubah. Mereka dan yang semisal dengan mereka adalah di antara orang-orang yang melakukan kesalahan."[12]

Selanjutnya adalah Syaikh Utsaimin ketika menilai pendapat-pendapat Ibnu Hajar yang merujuk kepada Asy’ariyah itu dipandang oleh beliau sebagai kesalahan. Beliau berkata :

إن الشيخين الحافظين "النووي ابن حجر" ‌لهما ‌قدم ‌صدق ‌ونفع ‌كبير ‌في ‌الأمة ‌الإسلامية ولئن وقع منهما خطأ في تأويل بعض نصوص الصفات إنه لمغمور بما لهما من الفضائل والمنافع الجمة

“Kedua syekh yang hafizh, yaitu An-Nawawi dan Ibnu Hajar, memiliki jasa yang besar dan manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Jika terjadi kesalahan dari mereka dalam menakwil sebagian teks yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, maka itu tenggelam dalam lautan keutamaan dan manfaat mereka yang begitu banyak.”[13]

Begitu juga Syaikh al Albani rahimahullah berkata :

مثل النووي وابن حجر العسقلاني وأمثالهم فهُم ‌من ‌الظلم ‌أن ‌يقال ‌عنهم ‌إنهم من أهل البدعة، أنا أعرف أنهما من الأشاعرة

“Merupakan suatu kezaliman jika dikatakan tentang an Nawawi, Ibnu Hajar al Asqalani dan orang yang semisal mereka dengan julukan ahli bid’ah. Meskipun saya mengetahui bahwa keduanya termasuk golongan Asy’ariyah."[14]

Bersambung bagian ke V : Sultanul Ulama Izz Abdussalam


[1] Al Hady hal. 219

[2] Fath al-Bari (1/189)

[3] Fath al-Bari (1/419)

[4] Fath al-Bari (6/48)

[5] Fath al-Bari (6/337)

[6] Tarikh Al-Islam (15/324)

[7] Al Manhal al Adzbu Ar Rawiy hal 28

[8] Fath al Bari (13/479)

[9] Fath al Bari (11/488)

[10] Fath al Bari (13/439)

[11] Fath al Bari (13/493)

[12] Majmu’ Fatawa li Ibn Baz (28/47)

[13] Al Ilmu li Utsaimin hlm 149

[14]Jami’ Turats al Albani (6/163)

Saturday, 18 January 2025

BAGIAN KE III: BUKTI IMAM NAWAWI SEORANG ASY’ARI

 

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Al imam Nawawi adalah seorang ulama besar yang digelari dengan julukan muhyiddin (sang penghidupnya agama). Dan beliau adalah pemilik karya-karya besar yang sangat popular hingga hari ini seperti kitab Riyadusshalihin, syarah Shahih Muslim, al Adzkar dan lainnya.

Berikut ini adalah diantara bukti yang bisa kami kemukakan, sebagai dasar tulisan ketika memasukkan beliau termasuk kelompok ulama yang dalam Aqidah mengikuti madzhab Asy’ariyah. Disclamer bahwa sangat mungkin setelah membaca sampai selesai kita tetap berbeda pendapat dalam menilai madzhab beliau, dan itu tidaklah masalah. Asalkan kami tidak anda tuduh hanya asal main comot tanpa pertimbangan data yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Bukti pertama : kesaksian ulama-ulama lainnya

Al imam adz Dzahabi rahimahullah berkata :

والنووي ‌رجل ‌أشعري ‌العقيدة ‌معروف ‌بذلك، يبدع من خالفه ويبالغ في التغليظ عليه

"Dan an Nawawi adalah seorang yang berakidah Asy’ari, tentang hal itu sudah sangat dikenal. Dia membid’ahkan orang yang menyelisihinya dan sangat keras dalam bersikap terhadap penentang Asy’ariyah."[1]

Al imam Taqiyuddin as Subki rahimahullah berkata :

فإن ‌النووي ‌أشعري العقيدة

“Sesungguhnya an Nawawi bermadzhab Asy’ari dalam Aqidah.”[2]

Al imam Munawi rahimahullah berkata :

فإن النووي أشعري

“Sesungguhnya an Nawawi bermadzhab Asy’ari.”[3]

Bukti kedua : Pengakuan beliau

Imam Nawawi dalam karyanya Bustan al Arifin menyebut Imam Abu al Hasan al-Asy'ari sebagai salah satu imamnya :

ومن المشهودين بكثرة التصنيف إمامنا الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي والإمام أبو الحسن الأشعري رضي الله تعالى عنهما

Artinya: "Di antara yang dikenal dengan banyak karangannya adalah imam kita, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i dan Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, semoga Allah meridhai keduanya."[4]

Beliau juga berkata :

كان الأستاذ أحد الثلاثة الذين اجتمعوا فى عصر واحد على نصر مذهب الحديث والسنة فى المسائل الكلامية، القائمين بنصرة مذهب الشيخ أبى الحسن الأشعرى، وهم الأستاذ أبو إسحاق الإسفراينى، والقاضى أبو بكر الباقلانى، والإمام أبو بكر بن فورك

"Sang guru adalah salah satu dari tiga tokoh yang hidup pada masa yang sama dan berjuang untuk membela mazhab hadis dan sunnah dalam persoalan ilmu kalam. Mereka adalah tokoh yang mendukung mazhab Syaikh Abu al Hasan al Asy’ari. Mereka adalah al ustadz Abu Ishaq al Isfara'ini,  al Qadhi Abu Bakr al Baqillani, dan Imam Abu Bakr bin Furak."[5]

Bukti ketiga : Mengajar di Lembaga yang syarat pengajarnya bermadzhab Asy’ariyah

Disebutkan bahwa Madrasah Darul Hadits al Asrifiyah menetapkan syarat bahwa semua pengajarnya harus bermadzhab Aqidah Asy’ariyah. Dan imam Nawawi bukan sekedar pengajar, namun pernah menjabat sebagai mudirnya. Disebutkan :

وهذه المدرسة وليها … الإمام ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ والحافظ المزي الذي ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ أﻧﻪ أﺷﻌﺮﻱ ﻗﺒﻞ أﻥ ﻳﻠﻲ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ الأﺷﺮﻓﻴﺔ .

"Dan madrasah ini pernah dipimpin oleh imam An Nawawi dan  al Hafizh al Mizzi, yang menuliskan pada dirinya sendiri bahwa ia adalah seorang Asy’ari sebelum memimpin Dar al Hadits al Asyrafiyah.”[6]

Bukti keempat : pemikirannya

Di antara ciri yang paling kuat dalam madzhab Asy’ariyah adalah diterimanya metode Tafwidh sebagai yang paling unggul dan dibolehkannya takwil jika dibutuhkan. Dan jika kita membaca kitab-kitab karya sang imam kita akan ketahui bahwa beliau mengikuti metode madzhab Asy’ari dalam perkara ini, semisal ucapan beliau :

هذا ‌الحديث ‌من ‌أحاديث ‌الصفات ‌وفيها ‌مذهبان ‌تقدم ‌ذكرهما مرات في كتاب الإيمان أحدهما الإيمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به

“Hadits ini termasuk dalam hadits-hadits sifat. Mengenainya ada dua pendapat yang telah disebutkan berulang kali dalam Kitab al Iman. Pendapat pertama adalah beriman kepadanya tanpa membahas maknanya, dengan keyakinan bahwa 'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya' dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat makhluk. Pendapat kedua adalah mentakwilkannya dengan makna yang sesuai…”[7]

Bukti kelima : diakui oleh pihak “lawan”

Tentang posisi beliau sebagai pengikut madzhab Asy’ari dalam Aqidah bahkan juga diakui oleh ulama-ulama dari madzhab lain. Di antaranya adalah apa yang dinyatakan oleh Syaikh al Albani rahimahullah :

 

مثل النووي وابن حجر العسقلاني وأمثالهم فهُم ‌من ‌الظلم ‌أن ‌يقال ‌عنهم ‌إنهم من أهل البدعة، أنا أعرف أنهما من الأشاعرة

“Merupakan suatu kezaliman jika dikatakan tentang an Nawawi, Ibnu Hajar al Asqalani dan orang yang semisal mereka dengan julukan ahli bid’ah. Meskipun saya mengetahui bahwa keduanya termasuk golongan Asy’ariyah."[8]

As Silafi rahimahullah berkata :

كان الإِمام ‌النووي رحمه الله ‌أشعري المعتقد، كثير التأويل لنصوص الكتاب والسنة عن ظواهرها. ولا يخفى هذا على من له أدنى إلمام بشرحه لصحيح الإِمام مسلم رحمه الله

"Imam an Nawawi rahimahullah adalah seorang yang berakidah Asy’ari, banyak melakukan takwil terhadap teks-teks Al Qur'an dan Sunnah dari makna lahiriahnya. Hal ini tidaklah samar bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan dasar tentang syarah beliau terhadap Shahih Imam Muslim rahimahullah."[9]

 

Syaikh Abdul Aziz Rajihi berkata :

النووي رحمه الله في شرح صحيح مسلم يؤول الصفات على طريقة الأشاعر

"Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menakwilkan sifat-sifat (Allah) sesuai dengan metode Asy'ariyah."[10]

 

Syaikh Abdul Karim al Khudari berkata :

النووي ‌أشعري ويقرر عقيدة الأشاعرة في شرح مسلم بكل ما تتطلبه من أبواب العقيدة

“Nawawi adalah seorang Asy'ari, dan beliau menetapkan akidah Asy'ariyah dalam Syarh Shahih Muslim dengan mencakup seluruh bab akidah yang diperlukan."[11]

 

Muhammad bin Hadi al Madhali berkata :

كـذَّاب الذي يقول لك النووي سلفي، والله كَذَّاب حتى يموت كائنًا من كان، أشعريٌّ جلد

"Pendusta orang yang mengatakan kepadamu bahwa an Nawawi adalah seorang Salafi. Demi Allah, dia adalah pendusta, siapapun dia, hingga ia mati. (An Nawawi) adalah seorang Asy’ari tulen."[12]

 

Bersambung ke bagian ke IV : Ibnu Hajar al Asqalani…



[1] Tarikh al Islami (15/336)

[2] Thabaqat Syafi’iyyah (6/19)

[3] Yawaqit wa Durar (2/381)

[4] Bustan al Arifin hal. 79

[5] Tahdzib al Asma wa al Lughat (2/170)

[6] Thabaqat Asy-Syafi'iyah (10/397)

[7] Syarh Nawawi ‘ala Muslim (5/28)

[8] Jami’ Turats al Albani (6/163)

[9] Tahqiq Irsyad ath Thulab (1/31)

[10] Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 86

[11] Syarah Shahih Bukhari (4/23)

[12] H*tps://*pp.box.c*m/s/59q8z5h1kd