Friday, 12 May 2023

IMAMNYA AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH


Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Inilah biografi dari salah satu ulama besar kaum muslimin sepanjang sejarah. Beliau berstatus sebagai mujtahid mutlak. Seorang ahli fiqh sekaligus imamnya ahli hadits. Keilmuannya yang luas menjadikan madzhab fiqihnya diikuti jutaan manusia sepanjang generasi, dan masih tetap eksis hingga hari ini.

Beliau adalah al imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, sang pendiri  madzhab Hanbali yang hidup di generasi tabiut tabi’in. Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi.. Dalam keseharian beliau dipanggil dengan nama Abu ‘Abdillah.

Sang imam terdidik dengan baik sejak masa kecilnya. Peran sang ibu dalam mengarahkan dan memberikan bimbingan terhadap Ahmad kecil sangatlah besar, terlebih setelah ayahnya wafat. Sehingga beliau sering disebut-sebut sebagai salah satu ulama yang kreatornya adalah seorang ibu.

 
Sang imam rahimahullah memiliki ciri fisik dan penampilan yang menarik, seperti yang diungkapkan oleh al Maimuniy :

ما أعلم أني رأيت أحدًا أنظفَ ثوبًا ولا أشد تعاهدًا لنفسه في شاربه وشعر رأسه وشعر بدنه ولا أنقى ثوبًا وأشده بياضًا من أحمد بن حنبل

 “Aku tidak pernah melihat ada orang yang bajunya selalu bersih dan yang paling menjaga penampilan dirinya dalam urusan rambut kelapanya, kumis dan juga rambut di seluruh badannya. Tidak ada yang bajunya lebih putih dan bersih dari Ahmad bin Hanbal.”[1]

Sanjungan ulama untuknya

Tak terhingga sanjungan dan pujian para ulama terhadap imam Ahmad rahimahullah. Dalam kitab Siyar a’lam Nubala saja, al imam adz Dzahabi ketika menuturkan kisah kehidupan beliau hampir mencapai 200 halaman. Yang di dalamnya bertabur berbagai komentar dan pujian para ulama terhadap imam Ahmad. Ini belum lagi ditambah dari kitab-kitab sejarah lainnya dan manaqib (biografi) yang khusus membahas pribadi agung yang satu ini.

Sehingga di bab ini saja, jika kita mau, bisa disusun satu buku tersendiri tentang pujian dan sanjungan ulama terhadapnya. Berikut diantara sanjungan ulama kepadannya :

Muhni bin Yahya berkata :

قد رأيت ابن عيينة، ووكيعا، وبقية، وعبد الرزاق، وضمرة، والناس، ما رأيت رجلا أجمع من أحمد في علمه وزهده وورعه،

 

“Aku telah bertemu dengan Sufyan bin Uyainah, Waki’, Baqiyah, Abdurrazaq, Dzamrah dan sejumlah orang (besar). Aku tidak pernah melihat seseorang yang seperti Ahmad dalam hal mengumpulkan ilmu, sifat zuhud dan sifat wara’.”[2]

Imam Abdurrazaq berkata :

ما رأيت أحدا أفقه ولا أورع من أحمد بن حنبل

“Aku tidak pernah melihat ada orang yang lebih faqih dan lebih wara’ melebihi Ahmad bin Hanbal.”[3]

Qutaibah berkata :

خير أهل زماننا ابن المبارك، ثم هذا الشاب -يعني: أحمد بن حنبل- وإذا رأيت رجلا يحب أحمد، فاعلم أنه صاحب سنة

“Sebaik-baik orang di zaman kita adalah Abdullah bin Mubarak, kemudian pemuda ini, yakni Ahmad bin Hanbal.  Jika aku melihat ada seseorang yang mencintai Ahmad, maka tahulah aku dia adalah pengikut sunnah.”[4]

Ia juga mengatakan :

ولولا أحمد، لأحدثوا في الدين، أحمد إمام الدنيا

“Seandainya bukan karena perjuangan Ahmad, akan banyak hal-hal baru dalam agama. Ahmad adalah imam di dunia ini.”[5]

Al imam Syafi’i rahimahullah berkata :

خرجت من بغداد، فما خلفت بها رجلا أفضل، ولا أعلم، ولا أفقه، ولا أتقى من أحمد بن حنبل

“Ketika aku keluar meninggalkan Baghdad, tidaklah aku tinggalkan padanya seorang pun yang lebih wara’, paling bertakwa, paling faqih, dan paling berilmu daripada Ahmad bin Hanbal.”[6]

Beliau juga berkata :

ما استفاد منا أكثر مما استفدنا منه

“Aku tidak pernah mengambil manfaat dari seseorang yang lebih banyak dari manfaat yang kuambil darinya.”[7]

Ishaq bin Ruhawaih berkata :

أحمد حجة بين الله وبين خلقه

“Ahmad adalah hujjah antara Allah dengan makhluk-makhlukNya.”[8]

Ibnu Madini berkata :

أعز الله الدين بالصديق يوم الردة، وبأحمد يوم المحنة

“Allah menjaga kemuliaan agama ini dengan Abu Bakar Shidiq di waktu ketika banyak orang murtad, dan dengan Ahmad bin Hanbal di waktu terjadi fitnah Qur’an dianggap makhluk.”[9]

Abu Ubaid berkata :

ما رأيت رجلا أعلم بالسنة منه

 

“Aku tidak mengetahui adanya orang yang lebih mengetahui sunnah melebihi dirinya.”[10]

Hasan bin Rabi’ berkata :

ما شبهت أحمد بن حنبل إلا بابن المبارك في سمته وهيئته

 

“Aku tidak pernah menyerupakan Ahmad bin Hanbal kecuali dengan Abdullah bin Mubarak dalam masalah adab dan prilakunya.”[11]

Yahya bin Ma’in berkata :

 

أرادوا أن أكون مثل أحمد، والله لا أكون مثله أبدا

“Aku berharap bisa seperti Ahmad bin Hanbal. Dan demi Allah, aku tidak pernah bisa seperti dia selama-lamanya.”[12]

As Sukuni berkata :

ما رأيت مثل أحمد بن حنبل

 

“Aku tidak pernah melihat ada orang seperti Ahmad bin Hanbal.”[13]

Hajaj bin Sya’ir berkata :

 ما رأيت أفضل من أحمد، وما كنت أحب أن أقتل في سبيل الله ولم أصل على أحمد، بلغ -والله- في الإمامة أكبر من مبلغ سفيان ومالك

 “Aku tidak mengetahui adanya orang yang lebih utama dari Ahmad. Aku tidak suka meski terbunuh di jalan Allah jika itu membuatku tidak bertemu dengannya. Demi Allah dalam masalah keimaman dia telah sampai pada derajat lebih agung dari pada apa yang bisa dicapai oleh Sufyan dan Malik.”[14]

Beliau juga berkata :

 

ما رأت عيناي روحًا في جسد أفضل من أحمد بن حنبل

“Aku tidak pernah meliaht dengan kedua mataku jasad yang ada ruhnya yang lebih baik dari Ahmad bin Hanbal.”[15]

Amru an Naqid berkata :

إذا وافقني أحمد بن حنبل على حديث، لا أبالي من خالفني

 

“Jika hadits yanga da padaku telah disepakati oelh Ahmad bin Hanbal, aku tidak perduli lagi dengan siapapun yang menyelisihinya.”[16]

Ibnu Abi Hatim berkata :

سألت أبي عن علي بن المديني وأحمد بن حنبل، أيهما أحفظ؟ فقال: كانا في الحفظ متقاربين، وكان أحمد أفقه

 “Aku pernah bertanya kepada ayahku, siapa diantara Ali bin Madini dengan Ahmad bin Hanbal yang paling banyak hafalan haditsnya ? Ayahku menjawab : ‘ Keduanya serupa dalam hafalan, hanya saja Ahmad lebih faqih.”[17]

Abu Zar’ah berkata :

ما رأيت أحدا أكمل من أحمد

 “Aku tidak melihat ada orang yang lebih sempurna dari Ahmad.”[18]

Beliau juga berkata , “Ketika Ahmad bin Hambal wafat, aku kumpulkan karya-karyanya, ternyata mencapai lebih dari 12 pikul. Tidak ada riwayat atsar dan hadits yang tertulis dengan tinta baik di sampul kitab atau di dalam isinya, kecuali semua telah dihafal olehnya dengan jalur perawinya.”

Abu Abdillah al Busanji berkata :

ما رأيت أجمع في كل شيء من أحمد بن حنبل، ولا أعقل منه

 “Aku tidak pernah melihat ada orang yang mengumpulkan segala sesuatu dari Ahmad bin Hanbal. Dan tidak ada yang secerdas dia.”[19]

Imam Nasa’i berkata :

جمع أحمد بن حنبل المعرفة بالحديث والفقه والورع والزهد والصبر

 “Ahmad telah mengumpulkan kema’rifatan, fiqih, hadits, wara’, zuhud dan juga kesabaran.”[20]

Shalih bin Muhamad Jazrah berkata :

أفقه من أدركت في الحديث أحمد بن حنبل

“Orang yang paling paham hadits yang pernah aku jumpai adalah Ahmad bin Hanbal.”[21]

Bisyr bin Harits berkata :

قام أحمد مقام الأنبياء، وأحمد عندنا امتحن بالسراء والضراء، فكان فيهما معتصما بالله

 “Seakan-akan Ahmad berada di maqam para nabi. Ahmad telah diuji dengan ujian kesenangan dan kesulitan. Dan dalam dua ujian itu, ia berpegang teguh kepada Allah.”[22]

Putranya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah mendengar Abu Zur`ah mengatakan, “Bapakmu (Ahmad) menghafal satu juta hadits.”

Maka dia bertanya :

فقيل له: وما يدريك؟

“Dari mana anda mengetahuinya ?”

Abu Zur’ah menjawab :

ذاكرتُه، فأخذتُ عليه الأبواب.

“Dia pernah menyebutkannya semua kepadaku. Lalu aku menjadikannya sebuah buku.”[23]

Ahmad bin Husain berkata :

سمعتُ رجلا من خُراسان يقول: عندنا أحمد بن حنبل، يرون أنّه لا يُشبه البَشَر، يظنّون أنّه من الملائكة

“Aku pernah mendengar seorang laki-laki dari khurasan berkata : Sebagian orang-orang kami menganggap bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah mirip dengan manusia, dia mirip dengan malaikat.”[24]


Bersambung....



[1] Shifatusshafwah ( 2/340)

[2] Siyar A’lam Nubala (11/191)

[3] Siyar A’lam Nubala (11/195)

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Tarikh an Dimashq, Ibn Asakir (5/272)

[7] Jami’ li ulum li imam Ahmad (18/534)

[8] Siyar A’lam Nubala (11/196)

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Siyar A’lam Nubala (11/198)

[14] Ibid

[15] Tarikh Baghdad (5/21)

[16] Siyar A’lam Nubala (11/198)

[17] Siyar A’lam Nubala (11/198)

[18] Siyar A’lam Nubala (11/198)

[19] Ibid

[20] Siyar A’lam Nubala (11/199)

[21] Ibid

[22] Ibid

[23] Siyar A’lam Nubala (11/187)

[24] Tarikh Islami (18/77)

Sunday, 7 May 2023

ZUBAIDAH ; SALAH SATU MUSLIMAH YANG MENGUBAH SEJARAH

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Siapa kiranya yang tak mengenal khalifah yang adil, santun, shalih, dan yang namanya paling bersinar dari dinansti Abasiyah, Harun ar Rasyid rahimahullah. Di mana pada masanya, kaum muslimin telah mencapai puncak kejayaan dan kemakmuran yang merata di seluruh wilayah kekhalifahan. Daulah Islam saat itu bahkan menjadi pusat peradaban dunia dan kiblat dari ilmu pengetahuan.

Pepatah Arab yang terkenal mengatakan : “Wara’a kulla rajulin adhim imraatun.”  Yang kemudian ini dipopulerkan oleh orang-orang barat dengan ungkapan : “There always the tough woman behind a great man.”Ya demikian lah, hampir semua orang sepakat dengan kata mutiara ini, bahwa di belakang para laki-laki hebat selalu ada wanita hebat yang mendukungnya.

Ternyata demikian pula dengan khalifah hebat Abasiyah ini, Harun ar Rasyid. Tidak banyak yang tahu bahwa ada dua sosok wanita luar biasa dibalik semua kesuksesannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Yang mana, nyaris tidak mungkin Harun bisa menorehkan karya-karya besar tanpa ada dukungan dan  sokongan dari keduanya. Siapakah mereka ? Yang pertama adalah ibunda Khalifah sendiri, yakni al Khaizuran dan yang kedua adalah istri tercintanya, Zubaidah binti Ja’far al Manshur.

Di tulisan kali ini, kita akan membahas sekelumit riwayat hidup dari sosok Zubaidah, istri yang setia mendampingi sang suami menaiki tangga-tangga prestasi dan menorehkan jasa yang luar biasa untuk Islam dan kaum muslimin.

Zubaidah adalah sosok wanita muslimah yang dikenal keshalihahannya, sangat cerdas dan sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia telah menghafal al Qur’an sejak kecil dan gemar mendiskusikan masalah fiqih dengan para pelayannya. Berkata Qadhi Khalkan :

أنه كان لها مائة جارية كلهن يحفظن القرآن العظيم، وورد كل واحدة عشر القرآن، وكان يسمع لهن في القصر دوي كدوي النحل

“Zubaidah memiliki 100 pelayan perempuan yang semuanya hafal al Qur’an, ia menggilir mereka untuk khataman sepersepuluh mushaf. Sehingga setiap hari terdengar seperti ada dengungan suara lebah dari istananya.”[1]

Ia juga sering mengundang para ulama, sastrawan dan ahli bahasa ke istananya. Agar dirinya bisa menyimak pelajaran dan mengambil faidah dari diskusi diantara ahli ilmu tersebut. Ketika menggambarkan akan sosoknya, al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

كانت من الجمال والمال والخير والديانة على جانب

“Dia adalah wanita yang cantik, berharta, mulia dan disaat bersamaan sangat baik agamanya.”[2]

 Zubaidah nama aslinya adalah Ammah Aziz. Namun nyaris tidak ada yang mengenalnya kecuali dengan nama Zubaidah yang merupakan julukan dari ayahnya, khalifah kedua Abasiyah, Ja’far al Manshur. Disebutkan al Manshur sangat mencintai putrinya ini. Ia sering bermain-main dan mencandai “Ammah Aziz’ kecil. Suatu hari karena al Manshur sangat kagum dengannya, ia berkata memujinya :

إنما أنت زبيدة

“Sesungguhnya engkau adalah Zubaidah (yang putih seperti buih).”[3]

Ahli sedekah

Saat ia menikah dengan Harun ar rasyid, diundang tamu-tamu dari seluruh penjuru negeri. Lalu dibagikan kepada para undangan harta dalam jumlah yang banyak, sampai dikatakan tidak ada pernikahan dalam Islam seperti pernikahan mereka.[4]

Imam Khatib al Baghdadi  berkata :

أنها حجت، فبلغت نفقتها في ستين يوما أربعة وخمسين ألف ألف درهم

“Dia pernah berhaji, dan dalam tempo 60 hari 54.000.000 dirham ( 4.3 triliyun)[5]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata :

 

ولها من الصدقات والأوقاف ووجوه القربات شيء كثير

Dia sangat gemar bersedekah dan berwaqaf serta sibuk dengan amal-amal sangat banyak.”[6]

 

Di masanya Zubaidah membangunkan beberapa perumahan yang kemudian ia hibahkan kepada rakyat di beberapa wilayah kekhalifahan Islam. Ia turut terlibat berwaqaf sumur, memperbaiki jalan dan membangun banyak masjid.

 

Ia juga terlibat dalam pendanaan untuk pembangunan waduk untuk irigasi, dan beberapa jembatan di wilayah Hijaz, Syam, dan Baghdad. Dan dia disebut-sebut sebagai pihak di belakang hadirnya baitul hikmah yang sangat legendaris itu. Sebuah perpustakaan sekaligus tempat riset ilmu keilmuan dengan jutaan buku dan alat kelengkapan penunjang ilmu pengetahuan dan juga  fasilitas terbaik di masanya.

 

Ibnu Jubair, seorang pengelana dari Andalusia, ketika ia menunaikan haji bercerita :

وهذه المصانعُ والبركُ والآبارُ التي مِنْ بغداد إلى مكة هي آثارُ زبيدة ابنة جعفر بن أبي جعفر المنصور

 “Adapun adanya pabrik-pabrik, pemandian dan saluran-saluran air yang mebentang dari Baghdad hingga kota Makkah, ini  adalah bekas peninggalan dari Zubaidah binti Ja’far al Manshur.”[7]

 Sumur Zubaidah

Di Makkah sampai hari ini ada sumur yang disebut dengan sumur Zubaidah. Ini adalah sebuah penampungan besar dari saluran air yang merupakan waqaf dari sayidah Zubaidah untuk memberi kecukupan kebutuhan air bagi jamaah haji, serta penduduk Makkah dan sekitarnya. Konon biaya penggarapannya mencapai 1,7 juta dinar atau setara dengan 6,4 triliyun.

Selama lebih dari 1000 tahun waqaf air ini memberikan sumbangsih yang sangat besar kemanfaatannya bagi jama’ah haji juga penduduk Makkah dan sekitarnya. Dan meski hari ini saluran air ini tidak digunakan lagi, tapi di Arab Saudi masih ada kantor khusus yang mengurusi masalah waqaf ini yakni kantor Administrasi Zubaidah dan Aziziyah.[8]

Setelah kematiannya

Al Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah menceritakan :

 رأيت ‌زبيدة في المنام، فقلت: ما فعل الله بك؟ فقالت: غفر لي في أول معول ضرب في طريق مكة.

 “Aku melihat Zubaidah di dalam tidur. Maka aku bertanya kepadanya :’Apa yang sudah Allah perbuat untukmu ?’ maka dia menjawab : ‘Allah telah mengampuni aku sejak hujaman skop pertama di proyek pembuatan di jalan Makkah .”[9]

 Semoga bermanfaat


[1] Al Bidayah wa Nihayah (14/204)

[2] Al Bidayah wa Nihayah (14/203)

[3] Al Bidayah wa Nihayah (14/203)

[4] A’lamun Nisa (2/17)

[5] Tarikh Baghdadi (14/433)

[6] Al Bidayah wa Nihayah (14/203)

[7] Rihlah Ibnu Jubair hal. 150

[8] Ma’alim Makkah hal. 197

[9] Al Bidayah wa Nihayah (14/204)

 

Saturday, 6 May 2023

MEMBELI KITAB ; SARANA MELANCARKAN REZEKI

 

Kitab adalah harta yang paling berharga bagi para penuntut ilmu agama. Karena ia adalah sumber primer bagi siapapun yang ingin menggali ilmu dengan cara yang benar. 
 
Kitab juga adalah teman yang paling setia dan terpercaya. Serta simpanan kekayaan yang kecil kemungkinannya akan hilang atau dicuri orang.
 
Maka sudah pasti, diantara ciri paling nyata dari kesungguhan penuntut ilmu sejati adalah upayanya untuk bisa memiliki sebanyak mungkin kitab-kitab para ulama. Dia akan merencanakan sebagaimana ciri khas dari amal-amal besar membutuhkan niat dan perencanaan yang matang.
 
Namun sayangnya, ada banyak orang termasuk para ustadz dan penuntut ilmu agama, yang merasa “rugi” ketika membeli kitab. Harganya terlalu mahal dan kebutuhan lain banyak yang lebih penting untuk diprioritaskan. 
 
Ini dalih yang tak sepenuhnya salah, tapi tentu tidak bisa selalu dijadikan alasan dan pembenaran. Apalagi pada kenyataannya kita mampu beli ini beli itu, begitu giliran beli kitab langsung merasa tak mampu.
Karena mahal itu tergantung dari sudut mana kita menilainya. Uang satu juta rupiah itu mahal jika digunakan untuk membeli sepiring makanan, tapi sangat murah kalau makanan itu cukup untuk konsumsi satu bulan.
 
Kitab akan menjadi mahal jika hanya dijadikan pajangan dan dibuka hanya sesekali dalam sebulan. Tapi akan menjadi barang yang sangat murah jika ia cepat sekali lusuh karena menjadi sumber primer dalam menggali ilmu lalu dijadikan amunisi untuk menyampaikan dakwah dan kebaikan setiap hari.
 
Karenanya untuk memotivasi diri sendiri dan teman-teman semua, berikut ini ada beberapa maqalah (perkataan) ulama yang menyebutkan bahwa membeli kitab itu bisa menjadi salah satu wasilah untuk melancarkan rezeki. Biasanya, kita ini kalau ada “amalan” terus dikaitkan dengan rezeki yang bisa lancar, biasanya wajahnya langsung berbinar-binar. Iya kan ?
 
شراء الكتب يعود بعشر امثاله رزقا
“Membeli kitab menyebabkan rezeki bisa kembali sepuluh kali lipat.”
 
‎
شراء الكتب يورث الغنى. فهذه تجارة الآخرة حصلت ويعوّضك الله بتجارة الدنيا
"Membeli kitab adalah investasi untuk mendatangkan kekayaan. Ini adalah bentuk dari jual beli akhirat yang menguntungkan dan Allah juga akan memberikan ganti bagi jual beli dunianya.”
 
اذا كان عندك مال واردت ان تستري به ثوبا فاشتر به كتابا يأتيك ثوب
 
“Jika kamu memiliki harta lalu berkeinginan membeli pakaian, maka alihkanlah dulu untuk membeli kitab, nanti kitab terbeli dan pakaian itu juga bisa engkau miliki.”
 
‎شِراء الكُتب مع النِّية الحسنة مِن أسباب سِعَّة الرِّزِق ويُورِث صاحبه الغنى. كان الأستاذ محمد الخانجي صاحب مكتبة الخانجي شغوفا بتحصيل الكتب وشرائها.. وكان عنده شقتان ملأهما بالكتب. وكان يقول: "شراء الكتب يعود على صاحبه بعشرة أضعاف الثمن مجرب 
قلت: وهو كذلك مجرب
 
“Membeli kitab-kitab dengan niat yang baik merupakan sebab diluaskannya rezeki dan akan mendatangkan kekayaan bagi pemiliknya. Ustadz Muhammad al Khaniji, pemilik penerbit Maktabah al-Khaniji sangat gemar mengoleksi dan membeli kitab. Ia punya dua rumah yang penuh dengan kitab. Ia sering berkata, membeli kitab akan mendatangkan uang berlipat-lipat daripada harga yang dibeli. Ini mujarab. Aku berkata, ini memang sangat terbukti.”
 
Saya pribadi merasakan hal ini secara langsung, betapa keberkahan dari membeli dan memiliki kitab-kitab para ulama itu memang luar biasa. Hari ini saja ada kisah yang bisa saya bagikan sebagai saksi dari bahasan ini dan semoga menjadi bagian dari tahaduts bi ni’matillah (menyebut-nyebut nikmatnya Allah).
Alhamdulillah saya hampir tidak pernah berhenti dari aktivitas membeli kitab. Program nabung untuk beli kitab adalah aktivitas wajib. Sehingga di layanan akun jual beli online yang sebenarnya milik istri, yang dominan malah belanjaan saya, setiap saat pasti ada saja kitab-kitab yang sedang dalam proses dikemas, atau sedang dalam pengiriman.
 
Sejak beberapa hari lalu saya ragu-ragu untuk membeli beberapa kitab yang harganya agak lumayan. Istri mengingatkan sebaiknya ditunda karena ada beberapa kebutuhan mendesak yang harus diprioritaskan, diantaranya si sulung dan beberapa santri putri lainnya yang akan segera berangkat ke al Azhar dan membutuhkan biaya yang lumayan besar.
 
Tapi entah semalam apa yang “merasuki” ku. Sehingga begitu nekad mengklik pembelian kitab Tarikh Ibnu Atsir dan Tahdzibul Kamal yang harga satu kitabnya seharga satu unit motor. Wah, ini mah benar-benar khilaf. Siap-siap berpagi-pagi meminta maaf ke istri.
 
Tapi ternyata subhanallah, sebagaimana ending kebanyakan cerita saya ketika hunting kitab yang selalu dimudahkan dan diberi keberkahan, tidak pakai lama Allah ta’ala mendatangkan rezeki kontan langsung pagi ini juga berupa ganti yang bahkan berlebih. Alhamdulillah...
 
Semoga Allah ta'ala mudahkan kita semua dalam berburu ilmu dan kebaikan.
______
Ref : Nazahah al Andzar fi Ajaib Tawarikh wal Akhyar (2/371)

12 komentar