Saturday, 23 November 2024

ILMU AKU TIDAK TAHU

 

Oleh : Ahmad Syharin Thoriq

Diantara buruknya adab penanya di zaman ini adalah ketika ia bertanya kepada seorang ahli ilmu seperti memaksa untuk pasti mendapatkan jawabannya. Bahkan ketika jawabannnya itu sekedar telat dari  mendapatkan jawaban, ia seperti tidak terima, tanyanya sekarang ya jangan sampai di jawabnya bulan depan.  Mungkin orang seperti ini mengira bahwa seorang ulama atau mufti itu harus secanggih google, secerdas Chatgpth,  yang selalu sigap menjawab meskipun jawabannya harus ngasal dan sedikit ngawur.

Apa ia tidak tahu bahwa ulama-ulama besar dahulu saja, sudah biasa membuat orang yang jauh-jauh datang untuk meminta fatwa ke rumahnya di buat pulang dengan tangan hampa ? Entah itu karena tidak ketemu, atau memang dengan si ulama tidak dibukakan pintu, atau karena memang diberi jawaban dengan :  “aku tidak tahu.”

Diriwayatkan bahwa Imam Asy Sya’bi rahimahullah berkata :

لا ‌أدري ‌نصف ‌العلم

“Ucapan aku tidak tahu adalah separuh ilmu.”[1]

Dalam sebuah riwayat Imam Malik rahimahullah pernah didatangi oleh beberapa orang dari negeri yang sangat jauh untuk menanyakan beberapa fatwa agama. Dan semua jawaban dari beliau adalah : Aku tidak tahu. Sehingga sebagian mereka mengatakan : “Apa yang harus kami sampaikan kepada penduduk negeri kami sedangkan yang kami tanyai adalah orang seperti engkau dan jawabannya : Aku tidak tahu ?”

Imam Malik dengan tegas mengatakan : “ Ya katakan saja, bahwa Malik tidak mengetahui jawabannya.”

Dalam satu kesempatan yang lain beliau Imam Malik ditanya tentang satu permasalahan dan kala itu beliau menjawab ‘saya tidak tahu’. Kemudian si penanya berkata, “ini kan hanya masalah sepele ?”

 Mendengar ucapan ini sang imam marah seraya berkata :

مسألة خفيفة سهلة؟ ‌ليس ‌في ‌العلم ‌شيء ‌خفيف

“Apa katamu ? Tidak ada hal sepele dalam masalah ilmu !”[2]

Diriwayatkan pula dari imam asy Syafi’i rahimahullah bahwasanya beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau terdiam dalam waktu yang sangat lama. Hingga ada yang berkata : “Semoga Allah merahmati anda, sebenarnya anda mau jawab atau tidak ?”

 Imam Syafi'i menjawab:

حتى أدري الفضل في سكوتي أو في الجواب

"Saya harus memastikan dulu apakah lebih baik pertanyaan ini saya diamkan atau saya jawab."[3]

            Al imam Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr as Siddiq pernah ditanya tentang suatu masalah, dan beliau hanya menjawab, "Saya tidak menguasai masalah ini.”

Orang yang bertanya tersebut berkata, "Saya datang kepadamu karena saya tidak tahu tempat bertanya lainnya.” Mendengat itu  al imam Qasim menjawab,

لا تنظر إلى طول لحيتي، وكثرة الناس حولي، والله ما أحسنه لأن يقطع لساني أحب إلي من أن أتكلم بما لا علم لي

 "Engkau jangan tertipu oleh penampilanku atau karena banyaknya orang yang ada di sekitarku.  Demi Allah saya tidak bisa menjawabnya, dan lebih baik lidahku dipotong daripada aku harus memberi jawaban atas masalah yang aku tidak menguasainya !”[4]

 Imam Sya’bi rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah dan beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Maka ada yang berkata kepadanya, "Tidakkah anda merasa malu mengatakan 'tidak tahu', padahal anda dikenal sebagai ahli fiqihnya penduduk Iraq ?

Sang imam hanya menjawab, “Mengapa harus ? sedangkan para malaikat tidak malu ketika mereka mengatakan, 'Tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami.'"[5]

 

Semoga bermanfaat



[1] Musnad ad Darimi (1/276)

[2] Tartib al Madarik (1/184)

[3] Fatawa Ibnu Shalah (1/13)

[4] Adabul Mufti hal. 38

[5] Jami’ Bayanul Ilmi no. 1558

Friday, 1 November 2024

SANG PAKAR TAKWIL MIMPI

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Al imam Ibnu Sirin rahimahullah adalah satu dari sedikit ulama yang memiliki kepakaran dalam masalah takwil atau menafsirkan sebuah mimpi. bahkan dalam bidang ilmu ini beliau memiliki sebuah karya yang populer, yakni kitab yang berjudul Tafsirul ahlam (tafsir mimpi).[1]

Disebutkan dalam sebuah riwayat datang kepada beliau dua orang yang meminta untuk ditakwilkan mimpinya, di mana dua orang ini memiliki kesamaan mimpi, yakni dalam tidur mereka bermimpi seakan-akan mengumandangkan adzan. Sang imam kemudian meminta waktu beberapa hari kepada kedua penanya tersebut. Dan nanti mereka boleh kembali lagi untuk mendapatkan jawaban atas takwil mimpi mereka.

Nah ternyata tempo waktu yang tersebut oleh sang imam digunakan untuk mengetahui keadaan dua orang yang bertanya tentang mimpi mereka itu. Karena dalam ilmu takwil mimpi, arti mimpi itu sangat berkaitan erat dengan kehidupan orang yang diberikan mimpi. Jadi bisa saja mimpi itu sama, tapi bermakna berbeda ketika kepribadian orangnya juga berbeda.

Dan ternyata lewat penyelidikan tersebut beliau bisa mengetahui bahwa orang pertama adalah orang yang shalih lagi baik, sedangkan orang kedua memiliki perilaku sebaliknya, ia kerap menipu dan mengambil harta yang bukan haknya.

Setelah tiba waktu yang dijanjikan tiba, datanglah kedua orang yamg pernah bertanya tentang mimpi kepada sang imam. Dan Beliau rahimahullah berkata kepada orang pertama : “Engkau akan segera berangkat haji.” Sedangkan kepada orang kedua, beliau berkata : “Tanganmu akan dipotong (karena mencuri).”

            Dan ketika penanya itu telah pulang, salah seorang dari yang hadir di majelisnya bertanya kepada imam Ibnu Sirin : “Wahai imam, mengapa anda memberikan jawaban yang berbeda padahal mimpi kedua orang yang bertanya sama ?

Beliau menjawab, kepada orang pertama karena dia orang baik, maka aku mengambil takwil mimpi adzannya dari firman Allah ta’ala :

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji...” (QS. Al Hajj : 27)

Sedangkan untuk orang yang kedua karena ia bukan orang baik, aku memgambil takwil atas mimpinya dari firman Allah ta’ala :

ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

“…Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri". (QS.Yusuf : 70)[2]

Semoga bermanfaat.



[1] Tabaqat al Fuqaha hlm. 92

[2] Tafsir al Akhlam (1/86)